26
Mar
2019

Ancaman, Kelaparan, SNMPTN, hingga Psikologi Kepribadian

Saya pulang lebih larut dari hari yang sama, seminggu lalu. Sabtu. Istilah kerennya, malam Minggu. Malam menuju hari Minggu.

Bau hujan yang baru mengguyur, terasa eksotik. Saya tidak terkejut lagi. Di parkiran yang lampunya sudah mati itu, masih ada beberapa kendaraan.

Semalam sebelumnya, murid saya mengirim foto motor legend itu. Sembari memberikan catatan, yang menyerupai ancaman. Saya lupa lengkapnya, intinya saya disuruh lihat “busi” motor.

Apakah busi motor saya dilepas. Lalu dimasukkan tas. Di bawa pulang. Lalu ditempel di dinding kamar. Sebagai semacam jimat keberuntungan. Atau menjadi pengusir makhluk astral. Dll.

Akhirnya, saya abaikan. Kebetulan saya bermalam di sekolah. Ada pekerjaan yang harus dituntaskan. Nah, ketika berjalan mendekati motor itu tiba-tiba perihal busi kembali menguing.

Tapi segera kutepis. Ndak mungkin lah.

Hari ini, di sekolah ada wisuda Al Quran. Selain yang diwisuda, siswa belajar di rumah. Kecuali osis, anak turcham, dan aktivis sekolah.

Aktivis sekolah ini yang hobi ke sekolah. Salah duanya murid saya Iqbal. Iqbal Pandu dan Iqbal Syahrul. Mereka tidak wisuda. Tapi ingin melihat orang yang diwisuda. Begitu.

Bahkan Iqbal Pandu, memberi saya kode. Bukan kode voucher makan di hotel Bintang lima. Tapi kode gerak tubuh. Ia menggerakkan tangannya ke mulut. Saya paham. Dia pasti lapar.

Saya jawab dengan suara. Saya suruh dia pulang. Makan di rumahnya. Karena saya keburu, saya tak bisa melayani lagi berpantomim.

Oh ya. Tahun lalu saya menulis refleksi selapas pengumuman SNMPTN. Supaya anak yang tidak berkesempatan, baik-baik saja. Meskipun saya yakin, tanpa saya menulis juga akan baik-baik saja. Heuheu.

Maka saya sedikit singgung di tulisan ini. Yang lolos, tentu harus diberi pujian. Selamat dan semacamnya. Lalu diberi ancaman, jangan sombong. Misal, hindari minta boomerangin kelulusan SNMPTN pada teman yang belum beruntung di SNMPTN. Dll.

Yang belum beruntung, bolehlah bersedih. Bolehlah menangis. Tapi jangan lama-lama. Bangkit. Berdiri. Berlari. Wush..

Terakhir. Tepatnya Jumat pagi. Saya terpukau di parkiran yang sama. Lantai dua.

Sebuah motor matic, lampu belakangnya nyala. Sementara yang punya pastinya di dalam kelas. Saya dekati. Saya pencet belnya. Bunyi.

Tentu saya tidak bisa membayangkan. Bagaimana psikologi anak tersebut. Okey, kunci lupa di motor bisa dan sering. Tapi ninggalin motor dalam keadaan nyala, tentu bukan anjuran dokter.

Di tengah kebingungan, seorang gadis muncul. Tidak tiba-tiba tentu saja. Dia jalan sebagaimana manusia pada umumnya.

Saya panggil dia. Lalu saya minta bantuan untuk mengumumkan pada si empu motor. Entah siapa empunya.

Mungkin, gadis itu bisa menjadikan kasus tersebut untuk jadi bahan penelitian psikologi kepribadian kelak di kemudian hari. Heuheu.

Selamat berakhir pekan. Merdeka!

Sepanjang, 23/3/19

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *