02
Jun
2019

Berupa Esai, Bukan Opini

(Tulisan ini dibuat untuk ikutan meramaikan refleksi dari alumnus buat prodi PBSI Unipa Surabaya. Bila ada salah kata, mohon dibenarkan. Wkwk)

Berupa esai (bukan opini). Bertema “Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Unipa Surabaya”. Lomba seleksi kumpulan esai bersama.

Tiga kalimat di atas merupakan informasi yang ditulis dan diumumkan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesa (Himanesa). Unipa tentu saja.

Dulu, ketika saya awal kuliah di tahun 2007, pernah ditanya kuliah di mana. Saya jawab Unipa. Yang nanya bingung. Padahal lokasinya daerah Semolowaru. Dan kemudian, dari pertanyaan serupa di beberapa tempat, saya menjadi maklum, jika kampus tempat saya menuntut ilmu, belum begitu populer.

Namun, tentu saja berbeda dengan saat ini. Unipa sudah melejit namanya. Sudah bukan Universitas Papua, suatu hal yang mengejutkan saya ketika browsing di tahun 2007 tentang kata kunci: Unipa.

Terkait kampus, banyak yang heran terhadap pilihan prodi yang saya pilih. Kenapa “Bahasa Indonesia”? (Orang lebih suka menyebut “Bahasa Indonesia” padahal lengkapnya “Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia & Daerah”)

Penanya yang tak lain kawan juga saudara, sepertinya tidak rela. Kenapa kok bukan misalnya saja, Bahasa Inggris. Apalagi sebelumnya, saya anak STM.

Terkait “Bahasa Inggris” mereka bilang bisa buka kursus atau pengantar wisatawan mancanegara. Kalau “Bahasa Indonesia”?

Saat itu jawaban saya tidak memuaskan, bahkan untuk diri sendiri. Saya suka membaca. Saya sering menulis catatan harian. Sudah, modalnya itu. Makanya, saya jarang menggunakan alasan itu.

Pokoknya, saya punya pikiran bahwa harus “Bahasa Indonesia”. Maka di formulir pendaftaran, pilihan pertama. Pilihan keduanya asal saja, PKN.

Ketika mendaftar, saya ditemani kakak sepupu. Setelah mengisi formulir dan membayar, saya terkejut. Saat itu juga saya diterima menjadi mahasiswa. Sebelumnya terbayang akan dites ini dan itu.

Ketika menyemangati siswa yang tidak lulus SNMPTN, saya selalu membicarakan pengamalaman saya.

“Saya di swasta, bukan karena saya tidak mampu di negeri. Tapi itulah pilihan saya.” begitu saya bicara sebagai wali kelas yang tahu bahwa beberapa anak didiknya sedih karena terpental dari SNMPTN.

Saya kuliah, satu tahun setelah lulus di STM. Setahun itu saya bekerja bersama Bapak. Kuliah? Saya sangat menginginkan itu, tetapi kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan.

Ketika suatu sore, Bapak menawari saya kuliah, saya langsung setuju. Bosnya Bapak menyuruh saya ikut tes negeri dulu, dengan halus saya tolak. Kenapa? Waktu bisa mengubah pikiran Bapak. Jadi, sekarang atau tidak.

Awal-awal perkuliahan, saya menjalani dengan lancar. Sampai suatu ketika, saya jumpai dosen dengan handphone besar (saat itu handphone masih menjadi hal langka). Dia menerangkan panjang lebar. Saya duduk paling depan. Mendengarkan dari awal sampai akhir. Sialnya, di akhir kuliah, saya tidak memahami apa yang dibicarakan.

Bermula dari kegagalan itu, saya mulai ekstra keras membaca buku-buku yang direkomendasikan. Suatu ketika, saya ingin meminjam buku referensi padanya, tapi Beliau memandang saya agak lama kemudian menyuruh saya ke toko buku. Padahal, saya pinjam karena di beberapa toko buki tidak ada.

Sunu Catur Budiyono, itulah namanya. Dosen muda. Masih Drs. M. Hum. Tatapannya tajam. Suatu kali pernah keluar kelas, gara-gara satu teman ngobrol sendiri. Lalu saya menjadi tersangka, guna minta maaf atas nama kelas.

Dari Beliaulah, saya kemudian menyukai sastra. Dari referensi buku di tiap mata kuliah, saya pasti berusaha mencari dan membacanya. Tentu tidak melulu beli, saya menjadi anggota perpus di beberapa tempat.

Ketika itu, prodinya masih Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia & Daerah. PBSID. Salah satu rekan angkatan 2004, lolos tes CPNS guru Bahasa Jawa. Menarik. Karena di kampus, tidak pernah ada mata kuliah bahasa daerah.

Ijazah saya masih PBSID. Oleh karena itu, beberapa kali sempat diseret untuk menjadi pengajar bahasa Jawa. Saya tidak tahu, apakah angkatan saya terakhir atau tidak.

Nah, seperti di paragraf pembuka, nama prodi akan berganti. Prodi Bahasa Indonesia. PBI. seperti prodi sebelah, Prodi Bahasa Inggris.

Kalau di SMA, mata pelajaran wajib untuk Bahasa Indonesia yakni Pelajaran. bahasa Indonesia. Kalau yang peminatan, Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Tentu saya tidak mau pusing alasan kenapa berubah. Toh di negara ini kan memiliki kebiasaan itu, ketimbang mengatur hal yang lebih substantif.

Seperti halnya tulisan ini. Jika mengacu paragraf pembuka, yakni pengumuman lombandi instagram Himanesa.

Berupa esai (bukan opini). Maksudnya apa? Esai yang bukan opini itu esai yang bagaimana?

Esai versi KBBI, karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya.

Sudut pandang pribadi itu kita namakan apa kalau bukan opini?

Bertema “Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Unipa Surabaya”.Tentu tema tersebut sah-sah saja. Namun, kurang seksi. Tema itu menurut saya (pandangan pribadi saya) terlalu horor. Sebagai calon anak PBI tentu harusnya kaya diksi.

Lomba seleksi kumpulan esai bersama. Kalimat ini juga lagi-lagi menurut saya, bermasalah.

Lomba berarti adu keterampilan. Keterampilan apa? Seleksi kumpulan esai bersama.

Logikanya, lombanya itu menyeleksi kumpulan esai. Bukan lomba membuat esai.

Nah, saya pikir maksud dari teman-teman Himanesa, lomba menulis esai. Bukan lomba menyeleksi kumpulan esai.

Artinya apa?

Calon mahasiswa PBI harus detail mengawal hal demikian. Kesalahan berbahasa. Suatu hal yang dipandang minor oleh banyak orang. Bahkan orang yang bergelut di dalamnya.

Lebih lanjut, mahasiswa PBI harus memiliki satu keterampilan dasar yang kuat. Yakni keterampilan literasi.

Di manapun kita kuliah, negeri atau swasta, semua kembali kepada pribadi masing-masing. Idealnya, kampus favorit akan menghasilkan lulusan favorit. Namun hidup tidal melulu yang ideal.

Salah satu anak didik saya yang kuliah di Sastra Indonesia UGM menyatakan begini.

“Bapak. Akhirnya saya bisa punya partner diskusi yang enak. Kalau dulu di sekolah hanya Bapak yang enak diajak ngomong novel sastra. Terima kasih ya Pak.”

Dari situ saya merasa iri. Ketika saya kuliah dulu, saya hanya bisa berdiskusi nyaman dengan dosen yang ketika itu memiliki handphone besar. Dr. H. Sunu Catur Budiyono, M. Hum.

Juga diskusi meskipun tidak intens dengan Bu Oktavia dari Balai Bahasa dan Pak Puji Karyanto, sekarang Dekan Unair. Duku beliau mengajar mata kuliah sastra di PBSID.

Teman-teman saya nyaman jika obrolannya tidak seputar kuliah. Akhirnya apa? Iklim akademik tidak berlangsung mulus. Hal yang sampai kini masih saya sesali.

Tentu, sebagai bagian dari Prodi yang akan berganti PBI ini saya punya harapan. Harapannya, mahasiswanya aktif baik di kelas, di perpustakaan, maupun diskusi keilmuan.

Dosen-dosen juga begitu. Administrasi merupakan hal penting. Tapi jangan sampai menghambat diri untuk lebih produktif berkarya.

Karya yang memang benar-benar hasil pemikiran sendiri. Bukan karya gotong royong. Atau karya pingpong.

Di akhir tulisan yang entah esai atau apa ini, PBSID (kini PBSI, sebentar lagi PBI) merupakan rumah besar saya. Saya belajar di sana. Saya menemukan pendamping hidup (istri) juga di sana.

“Ketika aku kecil dan menjadi muridnya. Dialah di mataku orang terbesar dan terpintar. Ketika aku besar dan menjadi pintar, kulihat dia begitu kecil dan lugu. Aku menghargainya dulu. Karena tak tahu harga guru. Ataukah kini aku tak tahu menghargai guru?”

Demikian Gus Mus memotret guru dari kacamata murid. Semoga kita senantiasa menghormati guru-guru kita. Alfatihah.

Prambon
2019

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *