31
May
2020

Catatan Surabaya 727 (Bagian 1)

Oleh: Penyair Amatir

Menjelang malam di jembatan dinoyo, Surabaya (5 Juni 2011)

Dirgahayu Surabaya. Tahun ini usianya tujuh abad lebih dua puluh tujuh tahun, 727 tahun. Yang kini tengah tergolek lesu barangkali. Atau justru berdarah-darah mengusir Covid-19. Pandemi ini dari hari kehari semakin mengkhawatirkan di kota pahlawan ini.

Ketika beberapa tempat sudah bersiap untuk masa transisi –pemerintah menyebutnya (meski saya menganggapnya sebagai sebagai sebuah lelucon dalam hal kebahasaan) “new normal”, sebab kurva penyebaran telah melandai (terkait ini juga masih menjadi bahan perdebatan, sebagian menganggap data yang ditampilkan tidak mewakili kondisi sesungguhnya), Surabaya masih bersusah payah –keluar dari situasi yang tidak menggembirakan ini.

Sekitar bulan Desember (2019) saya membaca koran di warung kopi daerah Jetis. Saya mencermati penyebaran penyakit yang berhubungan dengan pernapasan, corona –demikian namanya, sebelum di awal tahun setelah ditetapkan pandemi oleh WHO, berganti nama ~ Covid-19. Ketika itu di televisi sudah ramai dibincangkan. Beberapa pengunjung warung kopi juga larut dalam perbincangan tentang penyakit yang nun jauh di sana itu. Yang beritanya sungguh mengiris hati.

Siapa sangka, tiga bulan setelahnya penyakit yang disebabkan virus itu tiba di Indonesia. Jakarta tentu saja menjadi episentrum awal. Hingga akhirnya tiba di Surabaya. Walau tidak seganas Wuhan tetapi tetap saja menggelisahkan semua lini tingkat sosial.

Status Surabaya yakni zona merah bin pembatasan sosial berskala besar (PSBB). PSBB ini merupakan satu langkah untuk tidak menuju pembatasa total (lockdown). Sebuah kebijakan dua kaki, antara keberlangsungan ekonomi dan “menyelamatkan” kesehatan masyarakat. Yang menurut saya tida bisa dikatakan berhasil. Sebab salah satu hal mendasar terkait masifnya tes masal covid-19 masih menjadi angan-angan. Sehingga angka-angka yang tiap sore dibicarakan jubir gugus tugas nasional –kini mungkin sudah cenderung ditinggalkan sebagaimana periode awal penyebaran Covid-19– diragukan berbagai pihak. Tidak menutup kemungkinan di Surabaya, jumlah sebenarnya melebihi deretan angka statistik itu.

Kondisi ini ditambah silang sengkarut atau istilah lainnya mampetnya komunikasi antar pemerintah pusat dan daerah atau pemerintah provinsi dengan pemerintah kota atau kabupaten.

Point pertama, terjadi di awal-awal kasus di bulan Maret. Ketika ramai perdebatan sengit antara pendukung Anis Baswedan dengan pendukung Presiden Jokowi. Sila mencermati sendiri duduk perkaranya. Berserakan di dunia digital. Apalagi pendukungnya memberikan bumbu penyedap yang justru “menyenangkan”.

Point kedua, kemarahan Tri Risma Harini terkait dua mobil PCR yang justru tidak berada di Surabaya seperti yang ia harapkan, baru-baru ini. Media merekam baik berita tulis maupun videonya saat uring-uringan. Tentu saja pihak yang “disalahkan” bukan sopir dua mobil itu tetapi pemangku kebijakannya, dalam hal ini pemerintah provinsi. Mau tidak mau nama Khofifah muncul sebagai pihak yang “disalahkan” itu.

Seperti sebelumnya, berhadapanlah dua pendukung yang bertikai (Risma dan Khofifah) yang tentu saja di media sosial. Karena sudah zamannya aspirasi dengan segala cacinya bebas ditulis dan tinggal klik itu. Tentu selama ada paketan internet. Cari saja di fesbuk atau instagram dan atau twitter, di akun masing-masing pejabat publik itu. Lihat komentar-komentar dari tiap unggahan (terutama unggahan terkini).

Tak ada jalan lain, keduanya meski maksudnya barangkali tidak begitu (serang-serangan), publik sebagian telah membaca itu sebagai sebuah komunikasi yang mampet. Bahkan ada pandangan yang lebih ekstrem dianggap sebagai penjegalan politis. Perlu ada itikad baik untuk mencairkan, dari keduanya atau salah satu dari keduanya. Karena keduanya benar, dan memang begitulah kebenaran bisa diproduksi setiap kepala.

Dirgahayu Surabaya. Kado terindah bagi kita (masyarakat Surabaya atau orang yang mencintai Surabaya karena di dalamnya berserakan kenangan-kenangan) ialah melihat kota ini kembali beraktivitas seperti sedia kala. Menjadi zona hijau kembali, seperti taman-taman kota yang mata begitu dimanjakan itu. Tentu saja semua pihak harus bersinergi. Haha, mudah sekali mengatakannya. Tapi sangat susah untuk membayangkan terjadi.

Salam satu nyali, Wani!!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *