21
Oct
2020

Cerita: Bukan Main

Oleh: Penyair Amatir

Warih terkejut. Tiba-tiba bapaknya menelpon. Bukan karena menelponnya, tetapi isi dari perbincangan itulah yang membuatnya terkejut.

“Bapak mau gantung diri Rih. Mungkin bukan keputusan yang baik, tetapi bisa jadi bisa meringankan beban saya”

Warih yang duduk bersama istrinya langsung terperanjat. Istrinya yang tengah menyuapi anaknya ikut terkejut melihat gelagat suaminya.

Segera Warih memberikan tanda. Menyuruh Wartini diam. Ia menyimpangkan telunjuknya di bibir

“Ini maksudnya gimana sih Pak. Gantung diri gimana? Ada masalah apa?”

Semakin terkejut Wartini. Ia memberi kode kepada suaminya. Minta agar speaker handphonenya dibesarkan. Tetapi ditolak sama Warih.

“Ya gantung diri. Bunuh diri. Tak ada cara alternatif lagi”

Warih melongo. Bapaknya mengucapkan “gantung diri” dan “bunuh diri” dengan entengnya. Seakan-akan mengatakan: aku mandi dulu, akan makan dulu, ke masjid dulu, kerja dulu. Tak ada semacam tekanan dalam pengucapan itu..

“Bapak. Saya akan ke sana malam ini. Pagi ini masih ada beberapa pekerjaan yang harus Warih selesaikan. Kita akan bicara. Bapak dengar saya kan?”

Lelaki di seberang sana lalu menanyakan kabar cucunya yang paling mungil. Yang kini tengah disuapi istrinya. Tak lupa juga menanyakan kabar istrinya.

Warih tinggal di kota S. Sementara bapaknya di desa G. Terpisah 20 km. Tak jauh memang. Tetapi bengisnya kehidupan membuat jarak itu menjadi jurang yang terlampau dalam.

Warih bukan anak satu-satunya. Ia anak ketiga dari lima bersaudara. Semua saudaranya sudah berkeluarga. Yang tinggal bersama Bapaknya saudaranya yang paling buncit. Perempuan. Beberapa bulan lalu menikah. Suaminya bekerja di pabrik kayu di desa itu.

“Kenapa Mas? Kenapa Bapak?”

Warih tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya. Ia sendiri tidak tahu bagaimana menjawabnya. Ia sendiri tidak tahu apa masalah yang sedang menimpa satu-satunya orang tuanya yang masih hidup itu. Ibunya meninggal setahun lalu. Penyakit kronis menggerogoti tubuh rentanya.

Setelah menelpon Warih, lelaki tua itu bergegas menuju kamarnya. Ia keluar membawa rafia. Lalu menemui Rukmini. Menepuk pundak anak bungsunya yang tengah terlelap itu. Sekilas ia menatap wajah lebam putrinya. Bekas tangan suaminya. Keduanya memang beberapa kali cekcok..Hingga lelaki itu menampar pipi putrinya. Berkali-kali. Sementara dirinya, tak bisa berbuat apa-apa. Ia terlalu tua untuk ikut campur urusan keluarga anak bungsunya itu.

Warsito berjalan pelan. Berhenti sejenak menatap foto dirinya dengan istrinya. Ia tersenyum. Lalu kembali meneruskan langkahnya. Burung peliharaannya terus berkicau tiada henti.

Rukmini terbangu. Ia terengah-engah. Baru saja ia mimpi buruk. Rumahnya digulung angin ribut. Hingga pecah berantakan. Lalu tiba-tiba ia kepikiran Bapaknya. Yang akhir-akhir ini lebih banyak murung. Bahkan suatu malam, ia bilang jika dalam waktu dekat akan menyusul Ibunya.

Perempuan yang wajahnya lebam itu segera berdiri. Ia melangkah menuju dapur. Ia sama sekali tidak menyangka, jika kejadian memilukan tengah menantinya. Ya, atas perimbangan tertentu cerita hanya bisa dikisahkan sampai sini saja.

21/10/20
Menatap asbak

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *