29
Sep
2020

Cerita: Halusinasi Puisi

Oleh: Penyair Amatir

Siang itu di depan saya seorang yang mengaku sebagai penyair mengetuk perhatian saya. Rambutnya berombak. Sebahu. Kacamatanya tebal sekali. Sekilas saya merasa wajah ini tak asing. Namun sampai sekian detik, saya tak berhasil melacaknya.

“Maaf. Kalau diizinkan aku akan membacakan sebuah puisi. Lalu tuan beri bintang. Bintang 5 sangat puas. Bintang 4 puas. Bintang 3 cukup puas. Bintang 2 tidak puas. Bintang 1 sangat tidak puas”

Saya berjaga-jaga. Saya merasa penyair atau siapapun di depan saya ini sepertinya membawa kabar buruk. Bicaranya sudah di luar perkiraan terburuk saya.

“Tentu tuan bertanya. Apa pentingnya tuan mendengarkan kemudian menilai puisi yang akan kubacakan. Ini bukan semacam manipulasi pikiran. Bukan tipu menipu seperti cukong-cukong yang konon membiayai para kepala daerah itu”

Ia mengambil sebuah buku. Sampulnya hitam polos. Sama sekali tak ada petunjuk. Kiranya jika itu buku puisi, tentang apa. Saya yang hendak membantahnya menarik diri. Menunggu.

“Bacakan saja. Jangan ragu. Saya tak pernah sekalipun menyukai puisi. Ah, barangkali kamu bisa membuat saya menyukai hal-hal tak berguna seperti ya puisi. Bacalah”

Penyair di depan saya itu terkejut. Ia menatap saya. Lalu ekspresi kagetnya berangsur memudar. Kembali optimis seperti motivator yang berbusa-busa meyakinkan pendengarnya.

“Bolehkah aku naik meja ini?” dia menunjuk meja. Sebelum saya menjawab, dia sudah berdiri. Mengangkat buku hitam.

Untung saja suasana sepi. Tak ada tetangga yang merekam kejadian tak bermutu ini. Saya mengalah. Saya relakan dia menjadikan meja saya sebagai panggung dadakan.

Ia lalu berteriak. Mengacungkan kepalan tangannya ke udara. Lalu melompat ke lantai. Bergulung-gulung. Berdiri lagi. Masih sambil berteriak-teriak naik kursi. Lalu naik meja. Meloncat lagi. Demikian seterusnya.

Saya dulu juga pernah diajari puisi. Dulu waktu sekolah. Tetapi seingat saya ada pesan dari puisi yang dulu saya baca. Yang dulu dijelaskan guru saya. Pesan kebaikan. Pesan untuk peduli pada liyan. Yang dibungkus dengan bahasa yang tidak biasa. Yang akhirnya saya nilai bahwa puisi jelas bertele-tele. Tidak pada inti.

Saya lihat tamu di depan saya ini penuh dengan keringat. Membanjiri wajahnya. Napasnya tersengal-sengal. Ia kemudian mengambil botol minum di tasnya. Lalu menenggak dengan brutal. Selanjutnya tersenyum pada saya.

“Haha. Terima kasih telah bersedia meluangkan waktunya untuk pertunjukkan ini..”

Dia tersenyum. Sepertinya ia berpikir baru saja menunjukkan bakat yang superior. Padahal yang saya alami lebih menyerupai penindasan.

“Berapa bintang untuk puisi yang kubaca tadi?” Ujarnya dengan wajah serius.

Saya dipaksa kembali terkejut. Ia menyerahkan kartu bergambar bintang lima buah.

“Berapa bintang?”

Tak ada pilihan lain. Saya sudah cukup mengalah sebagai tuan rumah. Dengan beberapa gerakan sederhana saya berdiri. Mengambili kartu-kartu sialan itu. Lalu saya masukkan ke dalam mulut. Saya kunyah-kunyah. Lalu saya berteriak-teriak histeris. Naik meja pula. Persis adegan yang tadi saya saksikan.

Tentu saja penyair itu tak bisa berbuat banyak selain meninggalkan beranda saya dengan kecemasan tercetak di wajahnya. Saya yang ngos-ngosan akhirnya menghentikan teatrikal itu.

Tetapi rupanya, berandal itu memanggil tetangga-tetangga saya. Beranda saya segera penuh. Sementara saya terlentang kebahisan tenaga dan kata-kata.

Sda, 29/9/20
Menghirup asap

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *