07
Oct
2020

Cerita: Membunuh Waktu

Penyair Amatir

Manson punya janji sore itu. Ia akan mengungkapkan cintanya pada Amelia. Keduanya berjanji di depan puskesmas yang halamannya luas itu. Di situ ada gazebo. Taman. Kolam ikan. Satu lagi, untuk hari-hari biasa tidak terlalu ramai.

Tentu saja Amelia tidak tahu bahwa Manson akan menembaknya. Menembak? Ah, itu semacam ungkapan yang artinya sama dengan mengungkapkan perasaan suka pada lawan jenis. Karena memang lelaki itu tidak menyebutkan alasan kenapa mereka harus bertemu.

Sore itu Amelia memang tidak ada kegiatan. Ketika Manson mengajaknya ketemu di taman anti pilkada, yang letaknya persis di depan puskesmas tempatnya bekerja.

Sebenarnya nama taman itu bukan taman anti pilkada, tetapi taman anti kebodohan. Namun semenjak pilkada yang ditolak banyak pihak tetap akan dilangsungkan itu (catatan: kondisi pandemi Covid-19 yang masih gila), beberapa komunitas anak muda mengganti pilkada dengan kebodohan.

“Bukan taman anti kebodohan. Tetapi taman anti pilkada. Karena kebodohan itu setara dengan pilkada” demikian obrolan awal mulanya. Tak disangka, semua setuju dengan ide ngawur itu. Sehingga kemudian nama taman itu berubah.

Manson tidak punya agenda apapun terkait pilihannya di taman itu. Murni karena letaknya yang strategis. Bukan karena dia anti pilkada.

“Aku semenjak lahir sudah ditakdirkan golput. Maka golputlah aku” demikian koarnya di media sosial. Yang tentu saja memantik caci maki tiada henti.

Targetnya satu. Ia akan mengungkapkan isi hatinya pada Amelia. Perempuan yang tiba-tiba saja datang di hidupnya tanpa disangka-sangka.

Manson mengenal Amelia. Itu pasti. Tapi mengenal juga tidak berarti keduanya akrab. Bahkan, Manson mengingat jika hanya tiga kali dia bertemu langsung. Itupun tanpa rencana sebelumnya.

“Ia datang tiap malam di mimpiku. Mintanya berulangkali agar aku sudi menjadi kekasihnya” demikian Manson cerita pada saya.

“Mimpi itu bukan hanya ilusi konyol. Tetapi aku yakin ini semacam kode dari Tuhan” jawabnya mantab.

Manson bilang jika ia sudah menyelediki siapa Amelia. Ia yakin jika dirinya tak salah memilihnya.

“Aku menyukai nya bahkan sebelum bertemu dengannya” ungkapnya berapi-api.

“Jika seumpama kamu ditolak bagaimana?”

Pertanyaan Rukin, teman satu kontrakannya, tiba-tiba saja mendesing dan melesak di telinga Manson. Saya pikir Manson akan gelagapan. Nyatanya dia mampu menjawabnya dengan sempurna.

“Seumpama? Semua hal punya dua sisi. Seumpama ini dan seumpama itu. Kenapa harus aku pikirkan. Yang penting maju dan terus bergerak ke sasaran?”

Amelia tiba lebih dulu. Ia mengenakan sweater abu-abu. Ia duduk di gazebo sambil membaca sebuah buku yang plastiknya baru saja dibukanya.

Manson tiba sepuluh menit kemudian. Ia langsung duduk di sebelah Amelia.

“Kamu terlambat 10 menit. Dan itu sangat tidak bagus untuk menjalani sebuah hubungan”

Manson kaget bukan main..

“Bukankah kamu mau mengungkapkan isi hatimu padaku?”

Manson melongo.

“Jika kamu menjalin ikatan atau katakan hubungan dengan seseorang, pastikan dimulai dengan benar. Sayangnya kamu mulai dengan terlambat sepuluh menit. Bisa saja aku meninggalkan tempat ini lebih cepat.

Manson masih meraba-raba kesadarannya.

“Maaf, untuk saat ini aku tidak bisa menerima kebaikanmu. Ku anggap itu sebagai sebuah kebaikan. Karena kamu punya niat untuk menyatakan perasaanmu padaku.”

Manson kesulitan untuk berbicara.

Perempuan itu turun dari gazebo. Lalu meninggalkan Manson yang masih kikuk dengan keganjilan yang baru saja diterimanya.

Manson masih duduk di situ. Membunuh waktu.

Sidoarjo, 7/10/20
Mencengkram

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *