21
Aug
2020

Cerpen: Mereka Menyeret Merdeka

Merdeka itu apa sih? Itu pertanyaan yang ditujukan buat saya. Yang bertanya tidak main-main. Diri saya sendiri. Ya, betul. Anda tidak salah dengar. Diri saya bertanya pada saya.

Saya jawab saja.

“Merdeka itu ya merdeka, titik.” Lalu tiba-tiba saya menjadi ragu.

Diri saya kemudian menjawab dengan ganas.

“Kemerdekaan adalah nasi yang dimakan. Lalu jadi tai. Begitu Wiji Thukul mengabadikan dalam puisinya” katanya dengan mantab.

Saya protes. Merdeka dan kemerdekaan beda. Merdeka kata sifat. Kemerdekaan kata benda.

Lalu saya berdebat panjang lebar dengan diri saya yang menyebalkan itu. Dia ngeyel. Saya juga ngeyel.

Lalu kemudian dia, maksud saya diri saya yang bertanya itu, mengatai saya monyet. Tentu saya marah. Saya maki-maki dia.

“Kalau saya monyet, kamu juga monyet. Bukankah kamu adalah saya. Dan sebaliknya” teriakku emosi.

“Jangan sok suci dan benar” ujar diri saya sengit.

Saya tak mau kalah.

“Kamu harus berkaca. Kamulah yang harus menerima pernyataan itu. Jangan sok suci dan benar” sergah saya.

Beberapa tetangga ternyata mengintip pertengkaran saya dengan diri saya sendiri. Merasa menjadi bahan tontonan, saya makin bersemangat.

Saya hujat diri saya yang ngeyel itu. Sampai dia tidak bisa berkata-kata lagi.

Ketika pintu terbuka, beberapa orang memegangi tangan saya. Saya berontak tentu saja.

“Maksudnya apa hah. Kenapa kalian meringkusku!! Bajingan. Lepaskan!” saya meronta sekuatnya. Berteriak sekuatnya.

Diri saya yang ngeyel itu tertawa terbahak-bahak. Karena tangan saya diringkus beberapa orang, saya semprot langsung dengan makian paling mematikan.

“Dasar komunis. Dasar teroris. Monyet. Anjing. Anak haram.” dan lainnya, saya teriakan sekeras-kerasnya.

Mereka menyeret saya dari rumah saya sendiri. Puluhan orang menumpuk di depan rumah. Saya diseret menuju ambulans.

“Bawa saja Merdeka ke RS. Jiwa Bahagia. Memang dia sering kumat.” ujar salah seorang tetangga.

Mulut saya dilakban. Saya hanya merutuk dalam hati. Berteriak sekeras-kerasnya.

“Namanya Merdeka. Gangguan jiwa semenjak gagal menjadi anggota dewan” ujar seseorang yang wajahnya saya ingat, tapi lupa namanya. Ia mengatakan pada perawat yang menatap saya dengan tatapan penuh Cinta.

Jemundo
19/8/2019

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *