03
Jun
2019

Dua Bersaudara dari Kota Liu, Komedi Tragedi ala Yu Hua

Oleh: Penyair Amateur

Brothers. Saya tiba-tiba nyangkut di rak novel terjemahan. Tepatnya di toko buku Togamas Petra. Siang hari.

Mulanya hendak mereparasi gawai. Kameranya bermasalah. Siang hari itu saya meluncur ke daerah Klampis. Suasananya Ramadhan. Ada haus-hausnya di sepanjang perjalanan dari Wonokromo.

Klampis sendiri merupakan sebuah kenangan. Kenangan macam apa, sepertinya saya tidak akan menguraikan di tulisan ini. Nanti panjang sekali. Huahua.

Berhadapan dengan petugas, saya mendengarkan ceramahnya. Lelaki muda yang ramah. Dan memang harus ramah. Blablabla. Akhirnya saya keluar dengan solusi menggantung.

Proses servis memakan waktu 1-2 minggu. Wow. Apalagi seminggu lagi dari ketika itu lebaran. Maka saya putuskan menunda. Menunda penyerahan gawai.

Lalu?

Tiba-tiba kepikiran toko buku itu. Sudah lama tidak ke situ. Sekarang saya lebih sering ke toga mas dipo atau margorejo. Padahal, zaman masih alay dulu itu tempat wajib untuk dikunjungi di akhir pekan. Beli buku atau sekadar lihat-lihat.

Petugas parkirnya masih sama. Cuma tarifnya saja yang mengalami inflasi. Eh, pintu masuknya juga nambah satu pintu. Dari parkiran (motor) belok kiri. Kalau yang lama (dan masih ada) lurus saja.

Begitu buka pintu, dua pria menyambut dengan ramah. Sekali lagi ya harus ramah. Kalau dia uring-uringan nanti saya laporkan pada bosnya. Huahua.

“Ada yang bisa dibantu Pak?” dia tersenyum.

“Mo lihat dulu mas” begitubyang terucap di bibir. Tapi dalam hati ada tambahannya. “Stop tanya. Stop ngintil”

Setelah puas melihat plus meraba beberapa buku sejarah dan filsafat, saya teruskan ke ruang tengah. Tempat novel. Wah, kondisinya sudah penuh sentuhan estetika. Meski posturnya sama dengan dulu kala.

Begitu lihat Rumah Minumnya Emilie Zola, langsung saya tangkap. Sebelumnya saya sudah baca yang Hati Iblis. Sumpah keren. Apalagi di belakang cover ada semacam pemberitahuan. 21+, gila kayak film-film. Huahua

Saya bawa buku itu sambil cari mangsa lain. Memang saya tidak pernah punya niat beli buku apa ketika ke toko buku. Saya biarkan Ilham saja yang memilihkan.

Saya bahkan mengambil novelnya Pram yang judulnya, ah saya lupa, pokonya tentang Kartini itu. Dua buku saya dekap.

Tetapi saya tersihir sebuah buku yang judulnya BROTHERS. Penulisnya Hu Yuan. Penerbitnya GM. Penerjemahnya Agustinus Wibowo. Entah siapa itu. Sebelumnya saya tidak pernah dengar itu penulisnya. Ketika saya baca riwayat penulis di sampul belakang, sepertinya mantab nih novel. Selain mantab tebalnya tentu saja.

Akhirnya saya beli. Dua novel dalam dekapan, dengan alasan sudah pernah baca karya lain dari penulisnya (padahal masalah utamanya: ekonomi, huahua).

BROTHERS, YU HUA, AGUSSTINUS WIBOWO, GRAMEDIA PUSTAKA

Saya baca itu novel. Hanya pada waktu malam hari. Sebab siang harinya saya lagi merampungkan Fiestanya Hemingway.

Gila. Hampir berlembar-lembar di awal berbicara masalah perbokongan. Ketika itu Li Gundul kepergok mengintip bokong di kakus. Kemudian di arak keliling kampung oleh Zhao Penyair.

Sense komedinya rapat. Penerjemahnya juga mumpuni.

700 halaman lebih. Dengan font kecil dan ukuran buku jumbo. Apalagi ketika memasuki liburan menjelang hari Raya 1440 H. Saya gasak. Terus dan terus. Kadang nangis. Cengeng kali. Kadang cekikikan. Seperti orang gila. Kadang geregetan. Kayak emak-emak lihat sinetron.

Saya tidak memiliki referensi sebelumnya terhadap novel dari Tiongkok. Pernah baca. Tapi tidak berbekas. Kalau setting Jepang, ya Memoir Geisha itu.

Dan harus saya akui. Penulis Yu Hua sangat epik sekali menggarap Dua Bersaudara (judul versi Indonesia). Terdiri dari dua chapter.

Chapter 1, masa kecil nan penuh derita dari Li Gundul dan Son Gang. Chapter 2, masa remaja nan berliku-liku keduanya.

Novel ini berbicara tentang kesetiaan, cinta, keteguhan janji, keuletan, sekaligus dibalur dengan intrik politis di era itu. Sekaligus sense komedinya yang Bagus.

Tentu saja bagaimana ceritanya, ya baca saja bukunya. Saya rekomendasikan buat kamu yang lagi patah hati. Bisa jadi juga patah semangat.

Hidup adalah perjuangan, begitu Chairil berujar. Saya pikir di situlah pondasi Brothers. Selamat membaca tokoh paling bangsat dan paling sialan yang ada di kota Liu.

Prambon, Sda
3 Juni 2019

You may also like...

1 Response

  1. haha says:

    yang nulis bgsd g ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *