11
Jun
2019

Hemingway: Cinta, Tradisi, sekaligus Tragedi dalam Fiesta

Oleh: Penyair Amateur

Jakes Barnes menuturkan kisah petualangannya selama liburan di Eropa. Jurnalis yang dulunya prajurit Amerika itu saya jumpai dalam “Fiesta” nya Ernest Hemingway.

Tentu saya membaca yang terjemahan. Bukan karena tidak mampu beli yang versi bahasa asli, tapi karena kepayahan dalam hal berbahasa Inggris. Huahua. Garing.

Buku kuning itu (demikian warna dominan sampulnya) terbitan Bentang Pustaka, tahun 2017. Penerjemahnya, Rahmani. Sampul depannya ada semacam rayuan. PERAIH NOBEL SASTRA. Tentu saja, demikian tujuan rayuan itu, isinya pasti bermutu. Kamu harus beli. Tidak beli kamu tidak bermutu. Mungkin begitu maksud propaganda itu.

Apakah saya termakan rayuan itu? Tentu tidak sepenuhnya. Maksudnya, tanpa embel-embel rayuan itu saya tahu Hemingway peraih nobel. Bukan sok pinter, karena memang pinter. Huahua.

Saya baca kali pertama Hemingway, ya novelnya yang kanon itu. Lelaki Tua dan Laut. Old the man and the sea, mungkin begitu judul aslinya. Buku kecil. Namun menyimpan energi luar biasa. “Manusia bisa dihancurkan berkali-kali, tapi tak bisa dikalahkan.” Demikian kutipan yang terkenang dalam buku itu.

Kembali ke FIESTA.

Pertama saya tenteng itu buku, teman bilang eh itu seperti nama kondom. Saya terkejut.

“Kamu ke mini market. Lalu tengoklah sekitar kasir. Pasti ketemu fiesta” katanya cengengesan. Bangs** juga dia. Dan memang betul setelah saya praktikkan. Ah lupakan.

Setelah diterbitkan Bentang, akhirnya mampir ke perpustakaan rumah dua tahun setelahnya. 2019. Saya baca agak tersendat-sendat. Sebab saya lebih kepincut Brother-nya Yu Hua.

Mulanya saya baca Fiesta. Lalu di tengah jalan fokus ke Brothers. Lalu balik lagi dan menamatkan Fiesta.

Novel tersebut terdiri 19 bab dengan tiga pembagian. Buku 1-3. Sejumlah 327 halaman.

Saya googling resensi Fiesta, ada beberapa yang Bagus. Saya mencoba melengkapinya dengan versi “lite” saja. Huahua.

DESKRIPSI

Saya menikmati cara penulis mendeskripsikan dengan detail segala sesuatu. Ia selalu punya cara tanpa berbusa-busa.

Tentang adu banteng. Tentang pesta minum yang tak kunjung usai. Tentang cemburu yang runyam. Tentang Brett, perempuan petualang cinta yang menjadi primadona di novel ini.

Juga yang membuat betah, cara melukiskan kondisi sosial di pedalaman Spanyol. Potret yang bagus lewat kata-kata. Meskipun itu terjemahan. Ingat, terjemahan. Tentu bahasa pertamanya lebih esoy geboy mujair.

PESAN

Adu banteng selama sepekan itu mengisahkan banyak hal. Pertama, tradisi.

Kematian dalam adu banteng begitu tipisnya. Tetapi disitulah estetiknya. Matador menunjukkan kepiawaiannya, dengan sepersekian detik bisa saja nyawanya melayang.

Lalu sekian detik lainnya, matador akan menghujamkan pedangnya ke tubuh Banteng. Bukan sebuah kebiadaban. Tetapi sebuah nilai. Nilai seni. Begitu tradisi bekerja.

Cinta?

Yah, Jake memang menyukai Brett. Sama seperti kedua temannya: Chon dan Mike.

Tetapi sepenuhnya ia membiarkan Brett menemukan kebahagiannya sendiri.

Bahkan ia yang mengenalkannya dengan matador muda, 19 tahun, yang tampan.

Yang membuat Brett tergila-gila. Yang kemudian menghabiskan banyak waktu dengannya. Lalu kemudian mengusirnya, sebab ia berniat menikahi Brett.

Perempuan itu merasa tak pantas. Ia merasa dirinya tidak sebanding dengan cintanya matador muda, yang saya lupa namanya itu. Huahuha.

Jake pula akhirnya yang menjemput Brett di tengah masalahnya. Kemudian ia mengantarkan perempuan itu pada Mike Campbel, lelaki yang akan dinikahinya.

Teorinya sederhana. Ia yang jalang harus menikahi yang jalang pula. Ah, munkinkah itu tragedi?

Tentu akan lebih gahar jika kamu membaca bukunya. Rasakan sensasinya. Dari Bentang Pustaka untuk Indonesia. Merdeka, lah!

Prambon, Sda
11 Juni 2019

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *