19
Dec
2020

Ini Bukan Puisi, Tapi Boleh Jika Kamu Anggap ini Puisi

Penyair Amatir*

Angka-angka telah tiba dengan selamat di rumahmu. Seperti sebelumnya, tentu saja mengandung banyak cerita. Mulai senyum manis. Senyum agak manis. Hingga senyum tidak manis.

Angka-angka telah tiba dengan selamat di rumahmu. Seperti sebelumnya, tentu saja mengandung banyak cerita. Mulai senyum manis. Senyum agak manis. Hingga senyum tidak manis.

Tetapi, barangkali itulah usaha maksimal yang telah kamu lakukan. Berjibaku dengan layar gawai. Layar laptop. Setiap hari. Dengan kerumitan yang hanya bisa kamu rasakan sendiri.

Masalah kuota. Masalah tugas yang mengalir tanpa henti setiap hari. Hingga godaan yang bertubi-tubi mengisi hari-harimu.

Jauh dari rumahmu, guru-gurumu di sekolah juga memiliki komplikasi. Bagaimana mewedarkan urutan atau uraian atau konsep pada layar itu. Layar yang hampir setiap hari tidak ada gambarnya. Yang entah, pemilik akunnya berada di sana atau justru kabur entah kemana.

Pembelajaran jarak jauh ini jelas bukan pilihan ideal. Begitu Kepala Sekolah kita berkata hari ini. Memang demikianlah adanya. Tetapi barangkali bukan pilihan ideal itulah yang paling mendekati ideal di situasi pandemi ini.

Hari ini, angka-angka itu memberikan semacam catatan akhir semester. Tentang bagaimana kamu harus mengatur rencana di edisi berikutnya. Apakah akan bertahan, terjun bebas, atau menjadi lebih baik lagi.

Yap. Jelas pilihan-pilihan ada di tanganmu. Orangtua sudah pasti mendoakan yang terbaik untukmu. Juga guru-gurumu, bahkan yang paling tidak kamu suka sekalipun, tetap akan menyertakan namamu dalam tiap doanya. Di tengah urusan yang tentu saja menggempur bertubi-tubi.

Selamat buatmu yang tersenyum manis atas segala perjuangan berdarah-darah selama ini. Semangat buat kamu-kamu yang belum maksimal di edisi semester ini.

Satu lagi, jangan lupa bahagia!

*Penulis beranakpinak di Instagram @penyair_amatir

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *