15
Jun
2020

Kapan Kita Bertemu? ; Beberapa Kisah yang Terjadi Sebelumnya

Oleh: Penyair Amatir

Beberapa hari lalu, saya terlibat persekongkolan yang menyenangkan. Oleh karenanya saya mendapat kehormatan menulis catatan buah dari persekongkolan tersebut. Kamu baca saja jenis persekongkolan macam apa yang telah saya ikuti. Yang pasti bukan kriminal dan sebangsanya, yang kini beramai-ramai menjadi santapan warga negaramu.

kata-kata merambati tubuhku
liar dan semakin belukar

Aam Kamil (2020)

Sore itu kami bertemu. Di warkop ngopa-ngopi di pinggiran Surabaya. Tanpa janji muluk-muluk bahwa akan ada pertemuan blablabla.

Saya tiba lebih dulu. Setelah memesan teh lemon hangat, saya memeriksa puisi saya yang akan kami diskusikan. Saya memutuskan untuk menarik satu judul dan menggantinya dengan dua judul.

Beberapa malam sebelumnya, ketika Surabaya Raya masih PSBB, kami bertemu di ruang virtual. Saya di Prambon (Sidoarjo), Mas Pana di Madiun, Mas Kamil di Sukodono (Sidoarjo), dan Mas Brahms di Kebonsari (Surabaya).

Kami hendak mengisi siniar PBI Unipasby. Tentang apa saja. Pukul 22.00 via zoom dimulailah pertemuan itu. Setelah berada di ruang virtual itu, kami memutuskan untuk membicarakan buku puisinya Mas Pana (Ideologi Topi & Kopi).

Meski terganggu jaringan yang payah, acara berlangsung hingga akhir. Katakan saja, lancar. Itu perjumpaan yang kemudian di luar dugaan menghasilkan beberapa masalah. Kami memutuskan untuk membuat antologi puisi tentang pandemi.

“Kita berempat dengan rincian sepuluh puisi tiap kepala” demikian kira-kira jika saya ringkas ucapan Mas Pana, Kepala Suku Komunitas Kopi Aksara.

Meski agak berat kami setuju juga. Kenapa berat? Puisi yang saya tulis di masa pandemi masih separuh dari target. Begitu juga keluhan dari Mas Kamil juga Mas Brahms.

Oleh karenanya beberapa hari setelah perjumpaan virtual itu, ketika saya di warkop Java (letaknya kira-kira 300 meteran ke arah selatan dari Puspa Agro) bersama Mas Kamil, saya ungkapkan kegelisahan itu.

“Saya tidak mungkin 10 puisi. Berat. Bagaimana saya bisa menulis sebanyak itu, saya bukan robot. Idealnya ya 6-10 judul” demikian saya bilang dan disambut derai tawa kami berdua. Sebenarnya ini semacam pembenaran karena ketidakbecusan saya (ternyata diamini juga oleh Mas Kamil dan Mas Barok) menulis target 10 puisi.

Meski tidak benar-benar lega ketika Surabaya Raya dipastikan menghentikan PSBB, tentu saja data penyebaran covid-19 masih kategori merah (kata kunci utama penguasa yakni faktor ekonomi) sementara kejenuhan juga melanda tiap kepala, saya merayakannya dengan mengunjungi toko buku.

**

Tiga bulan lebih saya harus menahan rekreasi semacam itu. Memang saya masih membeli buku lewat lapak daring. Tetapi tetap saja tidak bisa menggantikan suasananya. Berjalan dari satu rak ke rak lain. Memegang dan membaca ringkasan buku. Bingung memilih mana yang akan dibeli.

Saya diharuskan mencuci tangan dengan sabun. Diawasi pula. Lalu kepala saya ini ditembak dengan termometer. Setelah barangkali saya dianggap tidak berbahaya, barulah saya bisa masuk.

Pengunjungnya seperti biasanya. Mau pandemi atau tidak, tidak bisa dikatakan banyak. Mungkin saja toko buku akan ramai jika di awal-awal tahun ajaran sekolah. Tentu bukan hendak beli buku puisi, novel, atau kumcer, tetapi buku paket, LKS, buku soal-soal, juga buku tulis dan seperangkatnya.

Saya antre di depan kasir dengan jarak yang ditentukan. Saya membeli tiga novel juara sayembara Penerbit Basa-Basi dan lima buah buku cerita untuk anak saya. Saya dan kasir dipisahkan pengaman (plastik – untuk mencegah penularan covid-19 tentu saja). Lega sekali akhirnya bisa mengunjungi toko buku lagi.

Perayaan semakin lengkap karena tanpa diduga (kami sering merencanakan pertemuan yang ujung-ujungnya bisa Anda tebak), malam harinya bisa berkumpul bersama teman-teman di pinggiran kota Surabaya. Agendanya yang diputuskan tiga jam sebelum pertemuan oleh Mas Pana di grup WA.

Silakan penyair memilih satu judul puisi menarik dari penyair lainnya. Kemudian kita diskusikan untuk judul buku. Misalnya,

  1. Aam memilih judul puisinya Pak Shodiq
  2. Pak Abraham memilih judul puisinya Pana
  3. Pana memilih judul puisinya Aam
  4. Pak Shodiq memilih judul puisinya Pak Abraham.

Ketika beremu kami bersalaman menggunakan siku kanan. Sembari tertawa. Setelah Mas Brahm muncul dengan gitar di punggungnya, tentu saja sebelumnya sudah banyak hal-hal yang bermutu atau tidak telah kami tandaskan.

Salah satu yang bermutu dan mengharukan yakni kematian tetangga Mas Pana (saya menanyakan apakah terjangkit covid, ternyata bukan itu tetapi ya semacam “angin duduk”). Kedua anaknya tertahan di Jakarta. Alhasil, proses pemakaman dan lain-lain dilaksanakan oleh tetangga. Saya tidak bisa membayangkan bagaiamana perasaan kedua anaknya yang dipaksa keadaan untuk tidak bisa mengantar orang tuanya ke peristirahatan terakhir itu.

Setelah anggota lengkap, kami memulai merancang judul buku. Sebelumnya kami mengumpulkan puisi-puisi sekaligus sudah disunting Mas Kamil. Sehingga pemilihan judul ini berdasar suntingan tersebut.

Saya memilih Manusia-Manusia Curiga (hal.38), Kapan Kita Bertemu? (hal.62), dan Zona Merah Tua (hal. 16). Mas Kamil (hal. 72), Mas Brahm (Sunyaruri, hal. 54), dan Mas Pana (Zona Merah Tua, hal. 16).

Tentu kami memilih untuk tidak menjagokan puisi sendiri untuk menjadi judul buku. Terkait pilihan saya yang tiga judul itu memang saya tidak mau terikat oleh syarat dan ketentuan yang dibuat Kepala Suku kami.

Kurang lebih alasan-alasan kami hampir sama. Puisi yang dimaksud mewakili situasi saat ini. Tentu dengan penekanan beberapa titik yang berbeda. Tak puas dengan argumen, kami lalu membaca puisi pilihan kami bergantian. Setelah lumayan panas, terpilih dua judul: Zona Merah Tua dan Kapan Kita Bertemu?

Cukup lama kami mendiskusikannya. Termasuk alasan-alasan yang menyertainya. Bahkan usulan menggabungkan keduanya. Mentok. Tak ada keputusan bulat. Mas Pana mengusulkan, biarlah orang di luar forum yang memutuskan. Dipilihlah dosen sastra PBI Unipa, Pak Sunu. Ternyata tak bisa dihubungi. Demikian pula Pak Shoim Anwar yang terkenal itu, tidak menjawab panggilan.

Jalan terakhir, untuk tidak menyebut langkah putus asa, menyuruh mahasiswanya Mas Pana untuk menentukan. Mahasiswa pertama tidak menjawab panggilan. Barulah mahasiswa kedua yang bernama Ulil memberikan tanggapan.

Mas Kamil mengirim dua puisi bermasalah itu dengan menyembunyikan identitas penyairnya kepada mahasiswa yang “beruntung” itu. Sambil menunggu, kami melanjutkan obrolan yang seperti biasa, tak akan habis-habis tentu saja.

Baru beberapa menit, Mas Kamil mengabari jika keputusan yang fenomenal (pembaca bisa menyebutnya konyol) sudah didapat. Kami antusias mendengar dosen Unsuri itu membacakan jawaban mahasiswa beruntung itu. Tentu pembaca tahu yang selanjutnya terjadi. Kami sepakat. Bulat dan tanspa syarat.

Prambon, Sda (6/14/20)

Bertemu dengan kalian malam ini,
Ada keasyikan yang hilang.
Gerak mulut ketika kita ngobrol ngalor-ngidul
Tak lagi bisa kulihat karena maskermu.

Ah, sialan!

Brahms (2020)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *