26
Mar
2019

Ketika Parkiran Lantai 2 Sepi dan Sunyi

Hari ini saya lumayan terkejut. Mengapa? Karena hanya motor saya saja yang nongkrong di parkiran sekolah. Parkiran lantai 2. Tempat parkir guru dan siswa SMA. Heuheu.

Padahal masih sore. Pukul 16.30. kemana semua siswa yang biasanya rajin melarutkan diri di sekolah. Apakah gerangan hari Sabtu? Ataukah gegara gerimis? Ataukah tanda-tanda akhir zaman? Wew.

Sembari berjalan menuju motor legendaris itu, pikiran saya berlari-lari. Memikirkan isu terkini minggu ini.

Kemarin, penembakan brutal di sebuah masjid di Selandia Baru. Ketika itu jamaah hendak melaksanakan sholat Jumat. Tiba-tiba diberondong senapan oleh seorang pemuda. Puluhan meninggal dunia.

Apalagi, ia merekam aksi brutalnya di facebook. Videonya langsung viral. Pemerintah dengan tegas melarang untuk membagikan konten tersebut.

Apapun motifnya, tentu kita mengutuk keras itu. Bukan sebaliknya, malah menyalahkan korban. Seperti pernyataan salah satu pejabat di Australia itu.

Di Amerika Selatan, saya lupa negaranya, juga terjadi kasus penembakan. Seorang alumnus sebuah sekolah, mendatangi sekolahannya. Bukan hendak silaturahim, tapi memuntahkan isi senapannya. Diakhiri dengan menembakkan senapannya di kepalanya sendiri.

Minggu ini juga. Di negara kita. Seorang perempuan, istri terduga teroris, meledakkan diri di rumahnya. Bersama anaknya yang masih berumur tiga tahun.

Minggu ini pula. Seorang pemimpin partai diciduk KPK karena korupsi.

Juga yang masih berlangsung, duel cebong melawan kampret. Yang sangat menjemukan sekaligus memuakkan. Dalam rangka Pilpres 2019. Merdeka!!

Calon legislatif yang menjadi tersangka karena mencabuli anak kandungnya. Naudzubillah.

Tentu semua cuplikan kisah di atas, bukan fiksi. Mungkin dulunya fiksi. Namun, kini telah menjadi realitas. Kejam dan sudah dinalar.

Tapi itulah hidup kita saat ini. Sebagai anak-anak yang nantinya kalian akan menjadi pemimpin negeri ini, kamu butuh tidak hanya kecerdasan intelektual semata.

Apalagi kecerdasan buatan. Seperti curang dalam ujian. Dan sebagainya. Supaya nilainya menanjak. Memalukan tentu saja!

Cerdas harus tuntas. Ya spiritual, intelektual, emosional, sosial. Carilah pengertian kecerdasan tersebut di buku-buku atau internet. Lalu dipraktikkan.

Teknologi komunikasi yang masif perkembangannya, harus digunakan secara positif. Jangan malah menjadi hiburan semata.

Remaja harus berkualitas. Jangan hanya menjadi benalu bagi masa depan negeri ini.

Demikian dan sampai jumpa di isu-isu lainnya di parkiran sekolah lantai 2. Horas!!

Krik krik

Penyair Amatir
Krian, 16/03/2019

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *