28
Apr
2019

Literasi Demokrasi, Seksi?

Ketika kamu berjalan di kampungku, maka kamu bisa lihat kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. Pemilu memang sedikit memberi warna. Ya, sebagaimana kampungmu, di sini juga berjajar wajah-wajah caleg yang menebar pesona.

Lalu money politic (MP), yang trending itu, juga ada di sini. Dan itu mengalir saja. Ketika ada partai bilang menolak MP, ya sah-sah saja. Tapi realitasnya MP tetap berlangsung.

Beberapa tetangga bahkan “digempur” dari beberapa konstestan. Baik itu partai maupun calon.

“Supaya tidak dosa, saya bagi pilihan politik di keluarga. Hehe.” Kira-kira begitu salah satu tetangga

Ketika pemilu tiba, warga berduyun-duyun ke TPS. Menunaikan hajat pemerintah. Panggilan negara. Setelah itu menyebar ke penjuru titik. Bekerja. Bilapun nyinyir, itu hanya ketika melepas penat saja. Bukan fungsi utama. Huuheu.

Istri saya yang pontang-panting. Seminggu sebelum pemilu, kerap rapat seputar pelaksanaan pemilu. Sampai larut. Maklum, menjadi anggota KPPS. Malam sebelum pencoblosan, juga begadang di TPS.

Pagi pukul 06.30 sudah meluncur ke TKP. Tujuh jam kemudian pulang. Lapar tak terkira. Saya protes. Katanya, makannya cuma malam saja. Alamak. Padahal anggaran pemilu triliunan. Saya terkejut. Padahal pagi belum makan. Yang pasti, di TPS sibuknya bukan kaleng-kaleng.

Lalu, habis Magrib pulang. Sholat. Berangkat lagi. Tepat pukul 03.00 dia pulang. Sudah jangan ditanya ekspresinya.

Alhamdulillah. Meski kepayahan, tapi sehat wal afiat.

Di berita-berita, bahkan ada yang meregang nyawa. Kelelahan dan lain sebagainya. Memang, kematian itu takdir. Jadi sila saja untuk menolak mangaitkan dengan Pemilu. Untuk itu Jawapos membuat dua seri feature yang menarik (18-19/4): Pengorbanan Para “Pahlawan Demokrasi” dari Bilik-Bilik Suara.

Pemilu sudah selesai. Bekerja tidak mengenal akhir. Begitulah. Warga kampung sudah move on. Istilah bergejolak dan seterusnya, akan membuat kamu kecewa jika berkunjung ke tempat saya. Sumpah.

KLAIM KEMENANGAN

Di media, baik itu media mainstream maupun media sosial, pemilu melahirkan narasi lanjutan.

Khususon pilpres cawapres. Setelah sebelumnya klaim unggul sebelum pemilihan, setelahnya juga terbit klaim serupa.

Pihak satu terlegitimasi oleh lembaga QC. Yang katanya ilmiah. Dan konon terbukti di pemilu sebelum-sebelumnya. Satu lainnya, percaya pada metodenya yang disebut RC.

Tentu yang demikian, menurut saya, sekali lagi menurut saya, adalah hiburan yang menyenangkan di alam demokrasi. Alam yang dengan sadari telah dipilih.

Klaim satu kubu, dan selanjutnya dua kubu sekali lagi bukan perkara yang harus digusarkan. Silakan saja adu argumentasi. Bukankah itu marwah demokrasi.

PERIHAL ANCAMAN

Mau itu perang total, perang badar, people power, atau lainnya, bila dimaknai negatif tentu akan berpotensi negatif.

Sebaliknya, juga begitu. Misal Perang Total melawan kecurangan pemilu. People power rakyat melalui pemilu.

Ketika berkendara di jalan mulus tanpa lubang menganga, dan kondisi lengang, juga tidak menjadi sebuah syarat untuk aman dari ancaman.

Ancaman tidak perlu ditakuti. Ia harus dihadapi. Dengan cerdas tentu saja.

Jadi mengobarkan sentimen ancaman ketika pemilu, baik sebelum dan sesudahnya, jelas berlebihan. Sewajarnya saja. Ancaman akan selalu ada.

LITERASI DALAM DEMOKRASI

Dahlan Iskan menulis begitu Bagus perihal move on di DisWay. Beberapa pihak menyerukan serupa. Prie GS dalam akun fesbuknya juga mengomentari headline Suara Merdeka “Akhiri Klaim Saling Menang” juga begitu bijak.

Lalu bila kamu buka Twitter, dan cari tagar populer hari ini. Tentu akan hangat dan bahkan panas perbincangan. Buka pula media sosial lainnya. Haha. Serupa juga. Beberapa rekan menjadi relawan dengan membagi link tertentu disertai caption yang menggoda. Terserah bila kamu bilang itu termasuk buzzer (dalam pengertian yang dipaksakan sebenarnya)

Sekali lagi, itu bukan soal yang perlu kita tangisi. Ia menjadi semacam siklus untuk menjadi. Menjadi lebih baik tentu saja. Maaf, maksudnya literasi demokrasi.

Kembali ke paragraf awal. Datanglah ke kampungku. Nikmati orkestranya. Petani membakar jerami. Mereka mengangkat hasil panen dan ditumpuk di pinggir jalan. Di depan rumah-rumah, mereka menggelar gabah di terpal. Menjemurnya biar kering.

Suara bel kereta api yang khas. Dan orang-orang dengan sewajanya menunggu ular besi itu lewat. Sebagain lagi berbondong menuju tempat hajatan. Setelah sehari sebelumnya, bertakziah ke rumah salah satu warga yang wafat .

Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman.

19/4/19
Selamat berakhir pekan. Jangan lupa bahagia.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *