06
Jun
2020

Menghitung Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya

Oleh: Penyair Amatir

Yth. Komet kawanku
di tempat nun jauh di sana

Sebelumnya, saya berkisah tentang NGRONG (novelis – S.Jai) padamu. Novel eksperimental yang jejaknya dari “keterasingan dalam pementasan teater” (Pemikiran Bercth, kamu bisa melacaknya sendiri untuk ini).

Setelah itu saya membaca novelnya Murakami. Inilah yang akan saya ceritakan.

Setelah berkumpar-kumpar dengan keterasingan Randu (tokoh aku – Ngrong), kali ini saya kembali menemui keterasingan dalam “Tsukuru Tzaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya”. Novel Murakami yang kali pertama saya baca tuntas.

Sebelumnya saya pernah membaca satu cerpennya. Saya menulis tentang itu di blog, mungkin lain kali bisa kamu lihat. Tetapi saya tidak asing dengan Murakami, karena seringkali saya membaca judul novelnya di toko buku. Tetapi baru saat ini, ketika pandemi ini, saya menyempatkan membaca novelnya.

Saya punya empat buku koleksi novel murakami. IQ84 tiga seri dan yang sedang saya ceritakan ini.

Sebagai pembaca awal (novel Murakami), saya tak banyak berandai-andai akan seperti apa novel ini. Namun membaca satu bab, saya menyukai cara bertutur penulis. Saya pikir, Ribeka Okta yang menerjemahkan ini perlu juga diberikan penghargaan. Suasana benar-benar hidup. Pilihan-pilihan katanya menyegarkan, bertenaga, sekaligus mumpuni.

Kalau dilihat rentang terbitnya, novel ini progresnya bagus di negara saya. Terbit Januari 2018 (KPG), sementara yang saya baca sudah edisi ketiga (September 2019). Apakah juga sampai edisi kedelapan seperti IQ84 (jilid 1)? Kita tunggu saja.

Tsukuri Tazaki (TT), mahasiswa semester 4 di kampus bergengsi Tokyo, harus menerima kenyataan pahit. Suatu ketika, ia didepak dari kelompoknya (lima sekawan yang solid selama SMA) tanpa ia tahu apa penyebabnya.

Karakter Tazaki yang tertutup (setidaknya di luar kelompoknya) mengalami goncangan hebat. Ia bahkan sampai pada ambang antara hidup dan mati. Dengan susah payah dan berdarah-darah (tentu saja dengan tanda tanya besar) ia mengubur masa lalunya yang teramat berharga dengan sahabat-sahabatnya itu.

Luka itu ternyata menghantuinya hingga bertahun-tahun kemudian. Hingga kemudian didorong perempuan yang menyita perhatiannya untuk mencari tahu misteri masa lalunya. Tentang alasan apa yang membuat dirinya dibuang dalam lingkar pertemanan itu.

Tetapi jangan telalu berharap semua misteri terungkap dengan benderang. Murakami membiarkan beberapa titik menjadi gelap. Mungkin saja, Murakami menyadari jika tak semua pencerita memahami seluruh peristiwa yang ia tuturkan. Mungkin juga hal lain.

Sesuai dengan minat TT akan stasiun dan kereta api, maka kita akan banyak menjumpai dua hal ini. Selain suguhan musik yang tak henti-henti dilukiskan dengan hangat sekaligus cerdas.

Membaca novel ini mau tidak mau menyeret saya untuk melihat kenangan saya yang terserak selama sekolah menengah. Hal inilah mungkin yang salah satunya (meskipun bukan utama) membuat keseluruhan cerita begitu dekat.

Kamu dapat menutupi ingatan, tetapi tidak dengan sejarah. Begitulah kredo Tsukuri Tazaki yang dia peroleh dari Sara, yang membuatnya menggali ingatan masa lalu untuk melihat sejarah tentang dirinya yang tidak baik-baik saja saat ini. Oleh karenanya, novel ini harus dibaca sebelum kesibukanmu menua.

7/6/2020
Menghitung sepi
Prambon-Sidoarjo

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *