06
Sep
2019

Menyesap Kembali Pahitnya Kopi Aksara

Oleh: Penyair Amatir

Penyair Amatir (tidak bertopi) bersama Lurah Kopi Aksara, Pana Pramulia.

Akhirnya, setelah melalui beragam kesibukan yang dibuat-buat belaka, kami bertemu. Seperti dulu, kumpul di warung kopi. Saya datang paling buncit. Ketika memarkir motor, wajah duniawi mereka memasang senyum.

Saya berjalan menuju mereka. Bersalaman. Sembari bertukar kabar. Gila. Padahal tiap ada kesempatan, juga berkabar di grup medsos. Tetapi memang bertemu masih belum tergantikan. Setidaknya untuk saat ini.

Secara urut tempat duduk. Pak Barok. Pak Pana. Mas Haji Syarif. Lalu pendaki gunung pemula, Mas Setyo Prawirarejo.

Saya pesan kopi toraja. Kemudian nimbrung obrolan yang gayeng itu. Sembari menyesap kenangan masa lampau. Ketika Kopi Aksara, komunitas sastra yang mengikat kebersamaan kami, mulai mengudara tepatnya di pinggir kali brantas. Tentu di warkop, ah.. saya lupa namanya. Entah itu berapa tahun yang lalu itu.

Teman-teman tengah memamerkan (meskipun sedikit saya paksa) buku puisi saya.

Saya memang menyiapkan buku puisi untuk pertemuan itu. Pertemuan yang ternyata tepat hari lahirnya Kopi Aksara. Saya kaget juga mendengarnya.

Buku – Antum Harus Bikin Puisi- merupakan buka puisi tunggal perdana saya. Sebelumnya lebih ke antologi bersama. Tak mau kalah, Pak Pana (Lurah Kopi Aksara) memberikan bukunya. Ideologi Topi & Kopi, buku antologi ke dua.

“Wah, buku saya kalah tebal. Kalah sakti” gurau saya sembari membuka bungkus buku itu.

Memang produktif Mas Pana ini. Sebelumnya juga antologi puisi tunggal, Kabar dari Warung Kopi. Belum lagi buku-buku lainnya yang terkait pewayangan. Ampun.

Pertemuan itu juga spesial. Karena berbarengan acara bola di TVRI. Indonesia lawan Malaysia. Luar biasa. Maksud saya bukan luar biasa bolanya, tapi perjuangan untuk menuju chanel TV milik bangsa tercinta itu. Penuh perjuangan. Hingga penjaga warkop merambat di dinding untuk mengatur program. Maklum, TV kabel sangat tidak ramah untuk acara bola. Butuh antena reguler. Tak peduli itu TV apa atau yang main negara siapa.

Tapi memang saya tidak peduli sama pertandingan itu. Bagi saya, justru pertemuan itu yang saya tunggu-tunggu. Maklum, saat ini selain faktor urusan kerja juga ada urusan keluarga yang turut menghambat.

Jika dulu, di awal-awal terbentuknya Kopi Aksara, hampir akhir pekan ketemu. Berproses. Baik itu berpuisi, bercermin, atau sekadar ngobrol ngalor ngidul. Nggibah nasional.

Yah, sekitar pukul 20.15 saya harus undur diri. Datang paling akhir, pulang lebih cepat. Sangat tidak beradab.

Namun, tetap ada banyak hal yang saya dapat dari perjumpaan yang sejumput itu. Salah satunya menghidupkan kembali komunitas yang mati suri itu. Salah satu agenda terdekat, bedah buku puisi Mas Pana. 19 September. Dengan pembedah, penyair Kusala Sastra, Aziz Manna.

Alhamdulillah. Setelah sekian lama, kembali menyesap pahitnya kopi aksara. Dan luar bisa lagi, Malaysia kembali berjaya atas Indonesia. Merdeka!

6/8/2019
Surabaya membara

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *