18
Jun
2019

Menyoal Wakil Rakyat dalam Cerpen “Di Terminal Kertajaya”-nya Dadang Ari Murtono

Oleh: Penyair Amateur

Sumber: lakonhidup.com

Seperti skripsi judul tulisan ini. Ngeri. Tapi lupakanlah. Mari langsung ke hal-hal. Menarik dalam cerpen yang akan saya ulik berikut ini.

Judulnya DI TERMINAL KERTAJAYA. Terminal di kota Mojokerto, Jawa Timur. Saya membacanya di blog lakonhidup.com.

Tindak kejahatan bisa menimpa siapa saja. Termasuk tokoh “aku” dalam cerpen Dadang Ari Murtono (DAM) yang terbit di harian Rakyat Sultra (11/6/2019).

Ia ditodong seorang bajingan di ruang tunggu terminal Kertajaya yang sepi itu. Menjelang magrib. Ketika itu dia menunggu saudaranya di bangku terminal.

Menurut saya, ada hal menarik yang terjadi seputar penodongan di cerita ini. Saya akan menguliknya pada bagian penodong yang mengatakan dalam obrolannya, bahwa dirinya akan menjadi anggota DPRD di Surabaya.


“Pasti, Bang. Pasti saya akan ke Surabaya dan nyari kerja di sana. Abang tahu, nanti di Surabaya saya bakal jadi anggota DPRD. Bagaimana Bang? Gagah kan?”

Sementara sibajingan digambarkan awut-awutan dan menjijikan lewat pikiran tokoh si Aku.

Lalu mari kita lakukan simulasi sederhana.

Calon wakil rakyat kok tampangnya menjijikan. Calon wakil rakyat kok memeras calon majikannya.

Harusnya, calon wakil rakyat itu bermartabat. Bukan memeras tapi menyejahterakan.

Tentu saja tokoh Aku dalam kisah itu tahu bahwa itu sekadar omongan sampah. Semacam omongan ngawur. Tetapi sekaligus menurut saya cerdas sebagai kritik.

Kritik terhadap calon wakil rakyat yang menampilkan citra malaikat untuk merebut hati rakyat.


Orang ini benar-benar gila. Kalau orang semacam ini bisa jadi anggota DPRD, ia pasti bakal merampok uang rakyat.

Nah, pertanyaannya kemudian, apakah wakil rakyat yang terjerat kasus perampokan terhadap uang rakyat itu bisa dikategorikan sebagaimana pikiran tokoh aku di atas? Tentu mengerikan pertanyaan itu.


“Begitu dong, Bang. Jangan pelit-pelit sama calon anggota DPRD. Gini-gini, saya ini calon wakil Abang nantinya. Sudah sepantasnya kalau Abang kasih sedikit sumbangan sebelum nanti giliran saya perjuangkan nasib Abang di parlemen,” katanya seraya meraih dompet dengan tangan kirinya. 

Maka, cerita ini menjadi semacam satire yang berhasil. Tentu saja pada wakil rakyat yang terhormat itu.

Nah, segera kunjungi linknya berikut supaya lebih mantab lagi saudara. DI TERMINAL KERTAJAYA

Sukodono, 18 Juni 2019

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *