01
Jun
2020

Nongkrong Bersama NGRONG

Yth. Komet yang semoga tetap muda
di Planet Numto tentu saja

Barangkali saya perlu mengucap terima kasih pada pandemi yang tengah menari-nari di planet kami ini. Bumi. Oleh karenanya, pekerjaan saya selain tidur, makan, dan bertarung di lapangan bola virtual (baca: PES 2020) juga membaca buku. Salah satu hal yang nampaknya “susah” dilaksanakan di hari-hari reguler.

Setiap waktu memang tak bisa lepas dari aktivitas membaca. Tapi tentu bukan membaca buku. Saya membaca tugas anak-anak yang senantiasa saya lakukan dengan cermat sebagai bentuk tanggung jawab profesi. Haha. Horor juga mengucapkan “tanggung jawab profesi”. Selain itu membaca status yang terserak di media sosial yang tak habis-habis itu.

Saat ini, saat saya menulis surat untukmu ini, saya baru saja menamatkan NGRONG. Novel teman saya yang sudah melekat itu gelar bangsawan dalam hal tulis-menulis yakni “sastrawan” — suatu hal yang saya bayangkan sewaktu-waktu turun pada saya predikat itu, oh betapa menyenangkan, huehehe — yang saya dapatkan jauh sebelum covid-19 tiba di Wuhan.

Cover NGRONG; Sebuah Novel

Saya dapat langsung dari penulisnya. Sialnya, saya tidak sempat untuk minta tandatangannya. Sekalipun beberapa menyebut norak –minta ttd penulis– tapi saya tak menganggapnya demikian. Tandatangan penulis merupakan sebuah tanda cinta atas koleksi buku-buku saya. Untuk pamer? Bolehlah prasangka demikian dipelihara, bila perlu dipelihara negara sekalian.

Kenapa baru saya tuntaskan setelah berbulan-bulan berbaring di rak buku?

Alasannya macam-macam. Bahkan saya punya koleksi yang plastik pembungkusnya masih perawan. Mungkin jawaban yang saat ini “tepat” yakni sesuai kebutuhan.

“Kenapa kamu perlu membaca NGRONG?” mungkin demikian tuntutanmu jika dirimu saat ini berada di dekat saya.

Dalam perjalanan membaca The Black Booknya (TBB) Pamuk, saya yang kelimpungan karena berkali-kali tidak mampu memahami maksudnya –bisa jadi terjemahannya buruk atau kemampuan saya buruk. Sepertinya point terakhir yang akurat. Huehue.

Saya menikmati Wanita Berambut Merah. Saya pikir kemudian, saya tak bisa membayangkan identitas atau sejarah yang dibicarakan Pamuk. Sehingga bayangan-bayangan menjadi kabur.

Lalu teringat saya dengan NGRONG ini yang dulu sempat saya baca prolognya dan berhasil membuat saya tampak bodoh karena tidak dapat mencernanya dengan cepat nan memuaskan. Maka saya balas dendam.

Walau tak begitu memahami TBB, toh saya tuntaskan juga membaca. Saya suka teknik penceritaannya. Lalu beralihlah saya membaca NGRONG ini.

Novel S.Jai ini dieditori oleh Randu A. Kelud, yang sengaja atau tidak, nama editor ini menjadi tokoh aku dalam NGRONG.

Novel setebal 388 halaman ini dibuka oleh bertold Brecht.

Anak kecil yang hidup di tengah-tengah orang pikun, (dia) belajar mengenal dunia itu.

Saya mulanya tidak begitu ngeh dengan obrolan pembuka novel ini. Yang ternyata setelah saya menuntaskan, ada keterkaitan. Menurut saya tentu saja.

Jeroan novel ini terdiri 25 bab/bagian/episode/subjudul, masing-masing satu bab (tanpa nomor bab) prolog dan epilog.

Di sampul belakang, tersedia garis besar cerita. Randu, lelaki yang hidupnya nyaris “cutel” mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia. Dalam pengasingan itu membawanya bersua dengan Ratih, perempuan yang kemudian menyeretnya dari “ruang” pengasingan itu untuk memaknai lagi siapa “aku” dalam diri Randu.

Komet sahabatku, tentu kamu memerlukan obat bernama “kesabaran” serta “niat” untuk membaca NGRONG. Dua senjata yang berhasil saya gunakan untuk membongkar kisah ini. Dunia Randu yang dituangkan melalui pikiran-pikirannya menyikapi masalah hidupnya (yang terus menerus menggencetnya –demikian yang saya tangkap) melompat-lompat dengan seksi (baca: liar).

Jika kamu membaca novel kemudian larut ke dalamnya karena melebur (emosi) dengan ceritanya, percayalah itu tak akan terjadi jika kamu membaca novel ini. Membaca NGRONG, maka saya seperti dituntut untuk berada di luar garis sebagai pengamat yang harus berjibaku dengan keadaan dan suasana (mengalir hingga ujung novel –epilog).

NGRONG menggunakan teknik “montase” (karya seni yang disusun dari sejumlah gambar yang diambil dari berbagai sumber). Sumber-sumber yang digali dalam hal ini yakni novel-novel serius (kanon), film, sejarah, dongeng, dll yang dilebur dalam situasi sedemikian rupa. Kadang sebagai perumpamaan, kadang sebagai penguat gagasan, kadang sebagai bahan obrolan. Hal demikian juga saya temui dalam TBB, sialnya saya tidak memahami apa yang dibicarakan. Edan.

Selain identitas ke-akuan (keterasingan) yang porsinya besar itu, masalah perempuan juga diangkat dengan kokoh. Saya menduga, barangkali riwayat penulis ini yang pernah bekerja di dunia itu, sehingga mungkin saja perempuan-perempuan yang dimaksud memang benar-benar ada.

Tentu ada bagian-bagian yang saya bosan. Terutama ketika membicarakan sejarah-sejarah yang setidaknya saya tahu arahnya ke mana.

Komet yang baik hati dan sesekali sombongnya bukan main.

Anak kecil yang hidup di tengah-tengah orang pikun, (dia) belajar mengenal dunia itu. Kutipan Bercht itu bisa jadi pondasi untuk novel ini.

Pengasingan Randu dengan segala jenis alasan akan kegelisahannya sejatinya merupakan proses yang tanpa henti untuk menemukan satu titik henti dari sebuah lintasan yang silang sengkarut. Ini tentu saja hasil dugaan saya (saya tidak peduli dengan pembaca lain ataupun penulis sendiri) saat ini dari pembacaan NGRONG.

Akhirnya, baca saja NGRONG dengan seksama dengan tempo sesukamu. Untuk mengamati keadaan dan suasana yang membuat kita tetap terjaga dan tidak lebur di dalamnya.

Sekian. Semoga bahagia selalu di sana.

2/6/2020
Mengamati Hujan dini hari di Sidoarjo

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *