15
Feb
2019

Nur Kalim: Guru Kita yang Bersahaja

Kalau saya punya panggung, saya akan beraksi. Misal, jika saya di posisi Nur Kalim. Guru yang viral itu. Yang dicengkram kerah bajunya. Yang diketawain satu kelas. Media menyebutnya: korban perundungan.

Nur Kalim dapat panggung. Publisitas yang mungkin tak pernah disangkanya. Di tengah panasnya suhu perpolitikan menjelang pilpres, kamera menyorot ke sebuah sekolah swasta di Wringin Anom. Wilayah Gresik bagian Selatan. Nur Kalim tampil sebagai hero, justru ketika dirinya menjadi pesakitan.

Setelah simpati mengalir, Ia memberi kabar lagi. Jika Ia memaafkan murid yang merundungnya. Saya menangis ketika kali pertama mendapat kabar itu.

Nur Kalim tentu saja adalah manusia sebagaimana saya. Bahkan, dalam video viral itu, ia berusaha mengubur kemarahannya. Rahangnya mengeras. Tapi ia diam tidak memberikan reaksi. Misalnya: idiot dan semacamnya.

Guru honorer bergaji 450 ribu itu, membuat banyak pihak memberikan puja-puji dan seterusnya. Bahkan yayasan yang menaunginya berniat menjadikan kepala sekolah. Pemerintah daerah juga berencana mengajukan Nur Kalim sebagai ASN. Belum lagi beberapa pihak memberikan bonus: umroh.

Media nasional dalam sebuah featurenya, mengatakan jika sulit menemui Nur Kalim. Ia kerap menghilang. Bukan tanpa alasan, sebab Nur Kalim memilih menjauhi publisitas.

Ia punya alasan logis. Semakin dirinya tampil, berarti ia memberikan kabar buruk bagi muridnya itu. Ia akan didewakan, sementara muridnya akan terjerembab ke jurang penistaan. Nur Kalim menyadari itu.

Dalam sebuah komentar di media sosial, ada yang bilang jika masalah perundungan itu adalah karena guru yang tidak bisa mengatur kondisi kelas. Nir manajemen kelas.

Pada kasus Nur Kalim, saya tidak setuju statament itu. Pada kondisi kelas ideal, mungkin saya bisa memahami pandangan tersebut.

Siswa tiba di sekolah, itu prestasi. Anda bisa bayangkan itu. Bandingkan dengan siswa berprestasi karena kegiatan intra maupun ekstra. Pada kasus Nur Kalim, siswanya itu bisa sampai sekolah saja itu sebuah prestasi.

Saya punya pengalaman mengajar pada kondisi sosial semacam Nur Kalim. Maka, menuding jika manajemen Sang Guru buruk, tidaklah pada porsinya.

Kembali pada paragraf awal. Jika saya menjadi Nur Kalim, saya akan memanfaatkan publisitas dengan maksimal. Saya akan senang hati menerima media. Saya akan senang hati disorot kamera televisi. Saya akan menceritakan bagaimana minornya guru honorer. Saya akan menguras air mata dengan sentimen perundungan.

Namun, Nur Kalim adalah Nur Kalim. Bukan saya yang haus publisitas. Ia menjadi guru. Benar-benar memikirkan bagaimana nasib anak didiknya ke depan. Bukan seberapa besar keuntungan yang akan dia dapat dari situasi tersebut. Untuk point itu, ia menjadi guru bagi kita. (*)

15 Februari 2019
Sepanjang yang Hujan

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *