02
Mar
2019

Pembangunan dalam Novel Orang-Orang Proyeknya Ahmad Tohari

:Pembacaan Novel “Orang-Orang Proyek”-nya Ahmad Tohari

Orde baru memang sudah berlalu. Namun perbincangan mengenainya senantiasa berlangsung. Salah satu yang dengan apik memotret situasi sosial waktu itu yakni Orang-Orang Proyek, novelnya Ahmad Tohari.

Novel tersebut terbit pertama tahun 2001. Sebab, memang tidak memungkinkan bacaan yang menohok pusat diterbitkan pada masa orde baru. Sensor yang cukup dan sangat ketat dari penguasa terhadap bacaan yang bersebrangan dengan kepentingan mereka.

Orde baru mengampanyekan sebagaimana yang sangat terkenal, yakni masifnya pembangunan fisik. Dalihnya, pembangunan untuk kemajuan bangsa. Nah, Orang-Orang Proyek (OOP) bertolak dari soal pembangunan.

Insinyur Kabul, yang bertugas mengawal pembangunan jembatan penghubung antar desa, harus menghadapi realitas pelik. Realitas peliknya yakni kebocoran anggaran dari hulu hingga ke hilir.

Sebagai mantan aktivis di kampusnya, Kabul dibuat serba salah. Sebab dengan terang-benderang dan diketahui penguasa, penyimpangan anggaran membuat kualitas bangunan yang direncanakan menjadi turun. Suatu hal yang bertentangan dengan idealismenya.

Rakyat menjadi korban. Sebab uang yang dikucurkan merupakan pajak dari rakyat. Sementara dengan sengaja digerogoti. Begitulah pikiran Kabul. Temannya yang menjadi kepala desa, Basar, yang dulu aktivis satu angkatan di kampus, tidak bisa berbuat banyak. Malahan ia tidak punya pilihan lain, kecuali mengikuti arahan-arahan dari pihak yang berkuasa. Menggerogoti anggaran proyek untuk kampanye partai pemerintah.

Kabul yang keukeuh pada idealismenya, pada akhirnya memilih mundur. Ia tidak mau mengkhianati keilmuannya. Yakni membangun Jembatan yang kualitasnya jauh dari perencanaan semula. Sebab anggarannya dipakai bancaan. Pertimbangan moralitas.

Intrik-intrik kegelisahan dan realitas yang tarik menarik dalam diri Kabul digambarkan cukup menarik. Juga menggelitik tentu saja. Bahkan, bila kita tarik ke situasi saat ini, kondisi saat ini sangat (masih) relevan. Proyek dari pemerintah, apapun itu, sangat rawan sekali untuk tidak bocor. Yang bermakna, korupsi mustahil untuk tidak terjadi. Istilahnya: gurita korupsi.

Hal lain yang juga menyita perhatian yakni romansa dari insinyur Kabul dan pegawai kantornya, Wati. Cukup menguras energi. Kisah ini menjadi bumbu, sehingga jalan cerita menjadi makin komplet mengaduk-aduk.

Selamat membaca.

Prambon
8/6/17

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *