08
Mar
2019

Pemilu dan Orang-Orang yang Telah Pergi

FILOSOFI GEMBIRA VERSI VAS BUNGA

sekali-kali gembira itu perlu,
: demikian vas bunga antik di rumahmu memulai pembicaraan.

jangan melulu umbar syahwat caci maki di media sosial, itu jahiliah 4.0,
: tambahnya sembari cengar-cengir

caci maki adalah seni tertinggi dalam bahasa pergaulan,
: balas saya dalam hati.

Tak baik menyimpan argumen di dalam hati,
: kejar vas bunga sialan itu.

Jarum jam terus bergeser. Layar smartphone terus menyala. Ocehan vas bunga kian meledak-ledak. Di luar, hujan turun dengan hati-hati.

Jangan diam saja. Itu perilaku tercela di era banjirnya informasi,
: ujarnya nyaring dan berbau politis

Sepanjang, 1/02/19

MENUMBUHKAN LUKA

Sekali malam minggu
ia belajar cara menumbuhkan luka
lewat tutorial singkat di saluran milik Pemerintah Baik-baik Saja

cita-citamu apa?
: ujar lampu ruang tamu sebuah rumah milik juragan kelapa sawit yang beberapa pekan silam mendaftar calon legislatif pusat

ia menggeleng lemah.

belajarlah menumbuhkan luka
: katanya dengan pelan setengah berbisik

ia akhirnya memang penumbuh luka
penumbuh yang ulet dan alot
satu-satunya dan tentu orisinal

mau pesan luka?
: kicaunya di saluran milik Pemerintah Baik-baik Saja

Sekali malam minggu
ia sudah bukan kaleng-kaleng

2-4/03
Prambon

PESAN PENYAIR TERKENAL

malam yang tiba di kota ini
membawa kabar suka cita
bahwa besok dan seterusnya
ia akan cuti melahirkan

malam akan cuti melahirkan
: demikian headlinenya

tentu kami gembira mendengar itu

berapa lama liburnya Tuan
: ujar jalan raya yang tubuhnya berlubang-lubang

kami pasti rindu lho
: teriak politisi di timeline media sosialnya

dan banyak komentar-komentar lainnya.

sebagai puisi
saya sangat bersedih,
penyair tak lagi bisa menulis tentang malam. jikapun memaksa, ia serta merta menjadi tidak orisinal.

jangan pernah pergi dari sini
tinggalah saja di kota ini
memuja kekuasaan
membela kebenaran
: tulis penyair terkenal, yang puisinya selalu dibayar mahal itu

malam semakin malam
sepi semakin sepi
itulah puisi

Sepanjang, 4/3/19

PEMILU DAN ORANG-ORANG YANG TELAH PERGI

Saya pingin nulis puisi
tentang pemilu
biar hidup semakin bermutu
: ujarmu sore itu sebelum
tubuhmu ditumbuk kereta api

Saya akan menuliskannya untukmu
: ujarku di atas nisanmu pagi ini

tak mudah menulis puisi
yang diimpikan orang mati
: sebuah pesan di gawai
sewaktu ibadah ngopi

saya tahu,
itu pesan darimu.
meski nomor baru,
tapi bahasamu selalu berima-i

berbahagialah di sana
meski saya tahu,
di sana tak ada pemilu
: rapalku dalam hati

Surabaya
14/01/18

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *