23
Feb
2019

Pikiran Orang-Orang Bodoh

Bagaiamana cara kerja pikiran orang-orang bodoh? Itu pertanyaan yang selalu di ulang-ulang oleh Masidis. Sebagai teman, saya sampai mual mendengarnya.

“Bagaimana cara kerja pikiran orang-orang bodoh Bud?” tanya Masidis sebulan yang lalu. Itu pertanyaan kali pertamanya diajukan ke saya. Ketika itu kami tengah berdiskusi soal lubang jalan, konon disebabkan hujan terus-menerus, yang akhir-akhir ini banyak memangsa korban. Bahkan, tetangga Masidis harus meregang nyawa gara-gara soal itu.

Saya cukup lama diam. Berpikir. Bukan berpikir cara menjawabnya. Tapi, apa maksud dia bertanya seperti itu. Apa saya kelihatan bodoh di matanya. Atau, memang saya punya bakat untuk menjawab hal-hal bodoh semacam itu.

“Kamu tanyakan saja pada orang-orang bodoh Mas. Karena hanya mereka yang paham. Maaf, saya bukan orang bodoh untuk menjawab hal bodoh semacam pertanyaan saudara Masidis yang terhormat.” saya nyeruput kopi yang sudah dingin di meja.

Ternyata, setelah hari itu, setiap ketemu saya, dia mengajukan pertanyaan serupa. Bukan hanya saya, setiap Masidis bicara dengan siapapun, dia tak lupa bertanya demikian. Maka, orang-orang lebih suka menyebut Masidis dengan Masabodoh.

Pernah suatu kali saya coba usik. Atas dasar apakah dia bertanya semacam itu. Seperti yang saya duga, dia hanya tersenyum. Sudah cukup. Saya tahu artinya. Dia tidak akan pernah mau menjawab. Sampai kemudian dia sendiri bosan dengan kebodohan semacam itu, baru biasanya dia akan bicara.

Setelah dihantam rutinitas yang lumayan lama, saya kembali bertemu dengan Masidis di bulan Maret. Pertengahan. Sore itu di sebuah kedai kopi. Rupanya, di kedai tersebut ada forum diskusi. Masidis, menyapa saya dengan lambaian khasnya. Ia tersenyum. Masidis tampaknya menjadi pusat diskusi. Ia dikelilingi beberapa orang.

“Perkenalkan. Teman seperjuangan. Namanya Budiman. Ia ahli dalam banyak hal. Terbaru ia diusir mertunya. Huahaha.” Masidis tertawa. Orang-orang yang mengelilinginya tertawa. Saya juga tertawa pada akhirnya.

“Teman-teman, bodoh itu pilihan. Termasuk pikirannya. Maka ada pernyataan terkenal, bodoh semenjak dalam pikiran. Demikian diskusi kita hari ini. Kita sambung bila ada umur panjang” ujar Masidis.

Saya yang duduk tak jauh dari forum kebodohan itu, mencoba membaca situasi tersebut. Seorang Masidis, yang dicap bodoh hari-hari ini menjadi pembicara meski kelasnya amatiran. Jelas ini sebuah tamparan bagi dunia perdiskusian.

Namun begitu, memang harus begitu. Kebodohan harus menjadi komoditas untuk menyeimbangkan kewarasan.

“Selamat sore tuan bodoh?” ujarnya tergelak-gelak. Masidis sudah di depan wajah sambil menjepret wajah saya yang menyedihkan.

“Seperti wajah politikus di baliho kota ini. Menyedihkan!!” tukasnya kembali tergelak-gelak.

Sepanjang, 23/2/19

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *