12
Jul
2019

Selamat Jalan Mas Zoe

Oleh: Penyair Amatir

PENYAIR-AMATIR.ID – “Tetap di mataku dosen favoritku mendiang Tri Budi Laksono.Jarang bolos, materi tuntas sistematis tidak kabur/gelambyar. Ayo tirulah jangan biarkan mahasiswa bengong di dinding pembatas lantai atas berjam-jam!” (Mas Zoe)
—-
Kenangan. Begitu magisnya kedengaran kata itu. Ia yang bisa menerbitkan air mata. Menyalakan amarah. Kenangan.

Setelah turun dari truk TNI itu saya langsung memuntahkan isi perut. Saya membayangkan akan lebih hina bila isi perut ambrol di truk yang membuat kami pusing sekaligus geregetan.

Saat awal keberangkatan, panitia bilang akan naik bus. Ketika hari telah tiba, justru kendaraan purbakala yang menanti. Protes boleh saja. Pilihannya tetap. Berangkat.

Jalanan yang naik turun belok dan seterusnya mampu mengocok isi perut. Bukan lucu. Tapi mual. Bahkan ada taman saya yang ambrol isi perutnya.

Sampai di Batu, vila biru. Penderitaan selama di truk terbayar. Pemandangan yang asri. Juga hawa dingin menggigit. Spanduk terbentang.

Selamat Datang Peserta Malam Keakraban Angkatan 2007.

Acara rutin mahasiswa PBSID (kala itu masih ada -D- nya. Sekarang malah PBI). Supaya akrab. Meskipun sudah akrab.

Ketua Himanya, Kukuh. Kecoa tempur, julukannya. Persisnya, nama flashdisknya.

Ketua MKnya, Musyaffa. Almarhum. Beliau meninggal dalam kecelakaan beberapa waktu kemudian.

Saya menulis itu untuk mengenang guru saya. Yang sudah sekian lama tidak pernah berkomunikasi. Yang menurut teman saya penggemar Mafioso (julukan Juventus) di akun fesbuknya, guru saya (Mas Zoe) meninggal pagi tadi. Serangan jantung.

Ketika itu, Mas Zoe merupakan mahasiswa tingkat akhir. Angkatan 2004.

Ia memberikan materi tentang puisi. Saya menikmati betul penuturannya. Pengetahuannya. Ceplas-ceplosnya. Dari itu, saya ingin seperti Beliau. Tentu tetap menjadi saya. Bingung? Saya juga.

Kendati mengidolakan, yah ketika itu sebagai mahasiswa baru, saya tak benar-benar dekat dengan beliau. Tetapi justru itulah yang membuat saya respek.

Rocky Gerung bilang jika ijazah bukan seseorang tanda pernah berpikir atau tidak. Tapi tanda dia pernah bersekolah. Dan Mas Zoe memang tidak menamatkan studinya. Saya pernah menginterogasinya terkait itu. Sebab tinggal skripsi saja. Tetapi bagi saya, apapun itu, tak sedikitpun mengurangi kekaguman padanya.

Pernah suatu kali saya undang sebagai panelis. Dalam debat calon ketua Hima. Jauh-jauh menyempatkan dari Gresik. Ia bersedia. Di akhir sesi, ketika teman-teman memberikan transport, dia menolaknya. Meski kami memaksanya.

“Ini adalah rumah saya” ujarnya ketika itu.

Suatu waktu, saya meminta puisi untuk mengenang Pak Hudan Dardiri. Rektor nyentrik, yang saya tahu dari “jarene” itu.

Memang, saya menyukai puisinya. Puisi Mas Zoe yang diksinya menurut saya khas seorang Zoe. Nah mbulet lagi.

Tapi untuk puisi yang saya minta itu, lalu dijadikan antologi. Pak Brew, senior saya yang cinta mati sama Pak Jokowi itu, bilang begini. “Puisi lainnya di buku ini “kebanting” sama puisinya Zoe”

Tentu saja Mas Zoe adalah juga manusia. Ia memiliki dua sisi.

Saya merasa beruntung pernah mengenalnya. Beruntung tidak menjadi akrab dengannya. Dan sekalipun tak menyesal menjadikannya sebagai idola di awal kuliah.

Satu yang saya sesali. Tidak pernah berencana mengunjungi lapaknya. Warkopnya. Meskipun dulu (ketika saya masih kuliah) disuruh mampir bila ke Gresik.

Selamat jalan Mas Zoe. Alfatihah. 

Prambon, 6/7/2019
*foto diambil tanpa izin dari fesbuknya Mas Sahertian al Mafioso

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *