24
Feb
2019

Seni Memberi dan Motif Berbagi

PENYAIR-AMATIR.ID: Sejenak saya merenung. Bisa jadi, mereka yang berbagi informasi di grup whatsapp, melihat saya atau orang digrup itu perlu tahu hal itu. Sungguh mulia sekali. Besar pahalanya.

Kurang lebih saya satu jam duduk di sini. Sebuah warung kopi di pinggir jalan raya. Membaca koran. Tentu ada secangkir kopinya. Bila koran telah khatam, sudah ada gawai di kantong.

Selama itu, perhatian saya tertuju pada beberapa peminta-minta. Mereka datang, memainkan alat musik ala kadarnya. Penjaga warung kopi berdiri, memberikan sekeping uang.

Kira-kira, sepuluh orang peminta-minta yang mendatangi tempat itu. Semuanya perempuan. Kalau dilihat dari tampilan, usia mereka tidak muda. Bahkan sebagian besar bisa disebut nenek-nenek.

Penjaga warung kopi itu, tidak sekalipun menolak. Atau pura-pura seperti saya, tidak mendengar bila ada peminta-minta. Setiap mereka tiba dengan alat musik payahnya, ia akan memberikan sekeping uang.

“Emang selalu diberi?” tanya saya. Saya iseng sebenarnya. Penjaga warung itu tersenyum.

“Yah gimana lagi. Itung-itung berbagi.” jawabnya lugas.

“Kok kesannya ndak ikhlas?” kejar saya sembari tertawa.

“Berbagi tak harus ikhlas. Begitu kan kata ustad di tivi-tivi?”

Saya terdiam. Kata mutiara pagi itu. BERBAGI TAK HARUS IKHLAS.

Perbincangan kami terputus. Ia melayani pembeli. Sementara, kopi saya tandas. Gawai dikantong berteriak butuh perhatian.

Saya keluarkan gawai. Beberapa notifikasi muncul. Di beberapa grup whatsapp, beberapa teman berbagi beberapa hal. Motivasi, tips kesehatan, keburukan capres, doa yang panjang.

Padahal, sama sekali saya tidak minta informasi itu. Saya diberi karena saya tidak meminta. Ajaib.

Sejenak saya merenung. Bisa jadi, mereka yang berbagi informasi di grup whatsapp, melihat saya atau orang digrup itu perlu tahu hal itu. Sungguh mulia sekali. Besar pahalanya.

Atau? Bisa jadi ada motif lain. Misal, ingin terlihat lebih update. Lebih pinter. Lebih bijak. Mengejar target orang berbagi paling banyak abad ini.

“Mas, kopinya habis itu. Jualan saya masih banyak tuh.. ” ujar penjaga warung kopi itu sembari cekikikan. (*)

Wonoayu
24/2/19

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *