11
Feb
2019

Tangan di Atas

Tangan di atas lebih baik ketimbang tangan di bawah. Peribahasanya begitu. Teorinya. Tapi kenyataan, kadang tak se estetis jargon. Pak Yono, memilih mengemis ketimbang pekerjaan lain. “Saya bekerja. Mengemis itu pekerjaan Nak. Kamu pikir tidak perlu teknik. Skill. Ah, kalau kamu pikir mengemis itu pekerjaan mudah dan hina, salah besar. Kamu terlalu mudah memandang persoalan. Ingat, hidup itu kompleks. Makanya, selalu gunakan banyak sisi untuk berpijak.” Dia, pria yang seumuran Bapakku ini menenggak kopi di meja.

Pak Yono, sering beroperasi di kawasan perumahanku. Saya hapal. Dia biasanya berkeliaran selepas Ashar. Saban hari Jumat. Kebetulan, ada tugas dari kampus untuk mewawancarai pengemis. Targetku, lelaki tua itu. “Namaku Hardiyono. Panggil Pak Yono saja. Asli Semarang. Di Sidoarjo ini, saya sudah lama. Sebelum perumahan ini ada. Saya mengemis. Saya menyebutnya, kerja. Yang penting halal. Halal.” Itu hasil pertemuanku dengan Pak Yono. Untuk pertama kalinya, saya menyilakan pengemis itu masuk. Menyediakan kopi dan panganan. Rokok juga. “Jangan sungkan Pak. Silakan dimakan. Saya lagi butuh teman ngobrol. Nama saya, Yusril.”
,
Hari itu, saya janjian dengan Pak Yono. Saya diundang ke rumahnya. Ia tinggal di lain kabupaten. Tapi tidak terlalu jauh tempatku. Inilah momen yang kutunggu. “Datanglah ke rumahku. Ini sebagai bentuk persaudaraan kita” Saya menyambutnya gembira. Setidaknya, saya akan mendapatkan banyak informasi dari keluarganya. Pasalnya, kerika saya singgung keluarganya, selalu saja dia berkelit. “Setiap kita Nak, punya keluarga. Keluarga selalu dalam hati. Maksudnya, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Namun satu hal, saya selali dan sangat mencintai keluargaku. Bahkan, Nak Yusril sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri. Belum pernah ada orang yang memperlakukan saya sebagaimana Nak Yusril.”
,
Perjumpaan saya dengan Pak Yono memang singkat. Dari yang singkat itu, justru di sanalah, terjadi dialog yang banyak memberikan cara pandang baru terhadap hal lama yang dimaknai tunggal. Saya menyadari betul, saya cukup beruntung. Malam itu saya mendengarkan rekaman-rekaman dari wawancaraku. Lalu memindahnya menjadi catatan-catatan lepas. Memelototinya. “Mengemis adalah pekerjaan. Selama niat kita tidak neko-neko. Tidak aneh-aneh. Tidak memeras. Tidak memaksa. Tidak memeras. Mengutamakan yang halal. Jadi pesan saya padamu Nak Yusril, jika tidak mau memberi katakan saja terus terang. Pengemis sejati akan tahu diri. Mereka pasti pergi. Jika mereka tak pergi, mereka pasti bukan pengemis. Tapi pemaksa.”
,
Meskipun saya tahu daerah Pak Yono, tetapi susah sekali menemukan tempat tinggalnya. Saya berputar-putar hampir satu jam. Akhirnya, saya putuskan untuk istirahat. Saya berhenti di sebuah mushola. Memarkir motor. Wudhu. Lalu sholat tahiyatul masjid. Selepasnya, saya duduk di beranda mushola. Angin sore berhembus. Mendung menggelayut. Hujan siap menggempur. Suka tidak suka, saya harus mengurungkan niat untuk memenuhi undangan Pak Yono. Selain rumahnya tidak kutemukan, ada hal lain yang mengganjal. Ternyata, saya baru sadar. Apa yang kulakukan ini bukan semata-mata kemanusiaan. Tetapi ada pamrih. Tugas kuliah. Demi tugas kuliah. Tiba-tiba rasa bersalah ini menjalar. Persahabatanku dengan Pak Yono, adalah karena sebab. Sebab yang menguntungkan diriku.

“Nak Yusril?” Suara itu. Aku menengoknya. Dia tersenyum Pakaiannya tidak lagi usang. Baju koko putih lusuh. Sarung hitam. Saya segera menghambur. Memeluknya.

Warkop Gresik, Selepas Maulid, 25 Des 2015 13:47:13

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *